Begitu pintu tertutup, suara langkah Elang menuruni tangga dan kemudian suara mobilnya menjauh, Jayne duduk terdiam di ranjang. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, tubuhnya masih basah oleh sisa peluh, dan hatinya penuh dengan rasa kosong yang tiba-tiba menyeruak. Ia menatap koper yang tadi sempat ia rapikan sebelum Elang masuk ke kamar. Tangannya bergerak merapikan baju-baju yang berserakan di lantai, sisa dari keriuhan mereka sebelumnya. Jemarinya bergetar, bukan karena lelah, tapi karena perasaan rumit yang menyelimutinya. “Kenapa harus selalu begini …,” gumamnya lirih. Namun ia tahu jawabannya. Elang bukan hanya pria yang mengisi hatinya, Elang adalah dokter, penyelamat nyawa. Panggilan darurat itu bukan sekadar pekerjaan—itu misi kemanusiaan. Dan Jayne tahu, ia tidak boleh egoi

