Tangan Ares tiba-tiba tersentuh panasnya peluru yang melesat tanpa aba-aba. Meski rasa perih merayap, ia menahannya dalam-dalam. Kini, hatinya hanya menyala untuk satu tujuan: membasmi kejahatan yang menggerogoti hidupnya, mengakhiri semua ini agar ia bisa kembali pulang kepada keluarganya yang rindu. Di depan matanya, sosok Darren muncul, pria paruh baya yang tadi dengan dingin telah melukai dirinya. Amarah Ares meledak tanpa henti, membakar setiap sudut jiwa yang tersisa. "b******k!" geramnya dengan suara serak, penuh kebencian. Darren menyeringai, ucapannya menusuk seperti belati yang membelah harapan. "Semua ini akibat ulahmu sendiri, Ares! Andai saja kamu menyerah, menyerahkan urusan keluarga Lords termasuk perusahaan kepada Paman, hidupmu tidak akan terancam. Apalagi istri dan anak

