Marah, kecewa, tertekan—semua badai perasaan itu berkecamuk di d**a Aluna. Namun semakin dia berusaha melepaskan diri, semakin dalam Ares mencengkeram bibirnya dalam ciuman yang seperti bara membakar seluruh naluri dan akalnya. Dalam putus asa yang memuncak, Aluna menggigit bibir Ares dengan sekuat tenaga, darah keluar, menorehkan tanda luka kecil yang akhirnya memaksa ciuman itu terhenti. Akan tetapi, Ares tidak marah. Justru dia mengusap bercak merah itu dengan jarinya, lalu menyunggingkan senyum penuh arti yang membuat napas Aluna tersengal. Emosi yang menggelegak di d**a wanita itu menjelma menjadi amarah yang hampir tak tertahan. Dengan tangan gemetar, Aluna melayangkan tamparan, namun dalam sekejap Ares menangkap—tangannya begitu kuat, menahan gerakan yang berusaha melukai dirinya.

