Derryl sudah menepati janjinya. Sakit hati Melisa dan keluarganya sudah terbalaskan. Sudah tidak ada ganjalan dalam hati Melisa. Wanita itu kini bertekad untuk menjadikan pernikahannya dengan Derryl seperti pernikahan-pernikahan lain yang terjadi bukan karena kesalahan semalam, ataupun karena perjanjian di muka seperti yang terjadi padanya. Melisa juga sudah keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, lalu mulai bekerja sebagai asisten suaminya sendiri. Dengan ponsel menempel di telinga kiri, tangan kanan wanita yang sedang berdiri di depan kompor itu bergerak mengaduk masakannya. Tubuh yang terbalut dres sepanjang lutut itu dilapisi celemek warna kuning. “Sudah. Sekarang apa lagi?” tanya Melisa sembari melongok ke dalam panci di atas kompor. “Sudah selesai. Tinggal kamu cicipi sekali l

