15. Mantan Kekasih

2311 Words
Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui jendela kamar utama yang lebar, jatuh tepat di atas tempat tidur yang sudah dirapikan. Salsabila berdiri di dekat pintu, kedua tangannya terlipat di atas perut yang mulai membuncit, usia kehamilannya sudah enam bulan lebih, dan setiap minggu perutnya terasa semakin berat. Matanya tidak lepas dari suaminya. Zaki berdiri di depan meja rias. Sebuah cermin bundar berdiri di atas meja kayu jati gelap. Zaki sedang menyimpulkan dasinya, gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali, tapi pagi ini terasa kaku, seperti tangannya lupa bagaimana cara kerja simpul sederhana. "Aku sudah minta Dirga untuk menutup semua aibmu," ujar Salsa. Suaranya datar. Tidak hangat. Tidak juga dingin. "Jadi tolong jangan cari masalah baru." Zaki tidak menoleh. Matanya tetap pada bayangannya sendiri di cermin, tapi ia tidak benar-benar melihat wajahnya. Yang ia lihat adalah pantulan Salsa di belakangnya, istrinya yang perutnya kini membesar membawa anak kedua mereka, istri yang sempat dia duakan. "Aku paham, Sa," jawabnya pelan. Jari-jarinya akhirnya berhasil menyelesaikan simpul dasi. Sebuah simpul Windsor yang rapi, seperti biasa. Tapi rasanya berbeda. Semua terasa berbeda sejak hari Jumat itu. "Makanya kamu gabung saja ke perusahaan keluarga," lanjut Salsa, nada suaranya sedikit meninggi, ada tekanan di sana. Tekanan yang ia pendam sejak beberapa hari terakhir. "Biar gak macam-macam lagi." Zaki berhenti. Tangannya yang baru saja selesai merapikan dasi, kini turun ke sisi tubuh. Ia masih menatap cermin, masih menatap bayangan Salsa di belakangnya. "Masih kupikirkan, Sa." Jawabannya santai. Terlalu santai untuk situasi seperti ini. Salsa tidak puas. Ia bisa merasakan ketidakpuasan itu merambat dari dadanya ke tenggorokan, mendorong kata-kata yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan. "Setelah kejadian itu kamu masih memikirkan, Mas?" Suaranya kini naik satu oktaf. "Yang benar saja!" Tangannya yang semula terlipat di atas perut, kini menjatuhkan satu tangan ke sisi tubuh, gerakan yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi bersabar. "Dirga gak main-main lho." Nama adiknya itu keluar dari mulut Salsa dengan nada peringatan. Bukan ancaman. Tapi fakta. Salsa tahu betul seperti apa adik laki-lakinya. Dirgantara Bayuadji bukan pria yang bisa diatur. Bukan pria yang bisa ditebak. Dan ketika Dirga sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya, termasuk kakak perempuannya sendiri. Zaki menghela napas panjang. Napas yang keluar dari hidung dengan suara berat, seperti orang yang baru saja menyesuaikan diri dengan beban di pundaknya. Ia menoleh. Untuk pertama kalinya pagi itu, matanya bertemu dengan mata Salsa. "Kalau sudah kejadian begitu," suaranya pelan, "kenapa kamu masih menerima aku, Sa?" Salsa menatap tajam suaminya. Matanya tidak berkedip. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran di bibir. Hanya tatapan tajam yang sudah ia persiapkan sejak hari Jumat, sejak Dirga menelepon dan mengatakan bahwa suaminya hampir menikahi wanita lain di belakangnya. "Karena aku tidak mau Shofie menjadi anak broken home." Jawaban Salsa keluar cepat. Terlalu cepat. Sampai ia tidak perlu berpikir lagi untuk mengucapkannya. Zaki tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum kecut, pahit, getir, seperti orang yang baru saja menggigit buah yang ternyata busuk di dalamnya. "Maafkan aku, Sa." Dua kata itu. Ringan. Tapi berat untuk diucapkan. Zaki mengucapkannya dengan suara yang hampir tidak terdengar, seperti orang yang tidak yakin kata-katanya akan didengar. "Aku ...." "Kamu tidak akan pernah bisa kembali ke perempuan itu lagi, Mas." Salsa memotong. Bukan karena ia tidak ingin mendengar permintaan maaf suaminya. Tapi karena ia sudah lelah. Lelah mendengar. Lelah memaafkan. Lelah berpura-pura bahwa semuanya bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf. Ia berjalan mendekat. Langkahnya pelan, matanya tetap tajam. Tetap menusuk. "Dia sudah jadi istrinya Dirga." Salsa berhenti di hadapan Zaki, hanya berjarak satu langkah. "Dan Dirga tidak akan menceraikan perempuan itu hanya karena dia gak cinta." Zaki membeku. Tangannya yang semula tenang di sisi tubuh, kini mengepal pelan. "Malah dia akan buat perempuan itu tersiksa dalam pernikahan mereka." Salsa menggeleng pelan. Bukan gelengan menyangkal. Tapi gelengan orang yang sudah pasrah, yang sudah menerima kenyataan pahit bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. "Kamu pikir aku bodoh, karena memaksa kamu bertahan dalam pernikahan ini?" Zaki tidak menjawab. Ia hanya menatap istrinya, wanita yang dulu ia cintai dengan tulus, wanita yang kini ia lihat dengan rasa bersalah yang begitu besar hingga ia hampir tidak sanggup menatap matanya. "Aku cuma gak mau buat mamaku kecewa," lanjut Salsa, suaranya kini melemah. Tidak setajam tadi. Ada sesuatu yang pecah di sana. "Karena putrinya punya pasangan yang mirip seperti suaminya yang tukang selingkuh." Salsa menunduk. Tangannya kembali terlipat di atas perutnya, gerakan yang tidak disadari, gestur melindungi, gestur seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dari dunia yang kejam. "Aku bodoh memang." Ia hampir berbisik. "Tapi ini kulakukan untuk anakku dan mamaku. Agar beliau tidak berpikir jika aku mendapat karma dari papaku." Zaki tidak bisa berkata-kata. Ia tahu tentang masa lalu mertuanya. Tahu tentang Mahesa yang dulu berselingkuh, tentang Gistara yang hampir hancur, tentang bagaimana Salsa remaja menyaksikan ibunya menangis di kamar mandi berkali-kali. Dan sekarang, ia melakukan hal yang sama. kepada putri dari wanita yang dulu terluka. Kepada kakak dari pria yang paling benci dengan perselingkuhan. Zaki membuka mulut. Ingin mengatakan sesuatu. Apa pun. Tapi tidak ada kata-kata yang cukup. Ia memilih menutup mulutnya. Berbalik. Dan melangkah keluar dari kamar. Di belakangnya, Salsa masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya masih di atas perut. Matanya menatap punggung suaminya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia membiarkan air matanya jatuh, lalu ia menyekanya dengan punggung tangan sebelum ada yang melihat. *** Dirgantara Bayuadji berdiri di dekat jendela ruang kerjanya yang berada di lantai sepuluh. Dari ketinggian ini, Jakarta terlihat seperti hamparan beton dan kaca yang tak berujung, gedung pencakar langit berjejal satu sama lain, jalanan dipadati kendaraan yang dari atas terlihat seperti mainan yang bergerak lamban. Kedua tangannya bersedekap. Matanya hanya terfokus pada satu titik di kejauhan, gedung berkaca biru dengan logo perusahaan yang ia kenal betul. Gedung tempat Zaki bekerja. Pikirannya melayang ke pagi hari itu. Pagi ketika darahnya mendidih dan ia memutuskan untuk menghancurkan segalanya, pernikahan, kepercayaan, dan mungkin sedikit kewarasannya sendiri. Pintu ruangan terbuka. Tiga ketukan, lalu desir udara saat kayu bergeser. "Pak." Tanpa menoleh pun Dirga hafal suara itu. Arman. Suaranya yang teratur, formal, tidak pernah berubah volumenya. Seperti asisten yang baik, yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Dirga tidak bergerak. Matanya masih pada gedung biru di kejauhan. "Saya sudah ke rumah tadi," lapor Arman, langkahnya mendekat tapi tidak terlalu dekat. "Ngasi surat-surat penting milik Mbak Ara. Tanda tangan, dan dokumen lainnya." Dirga mengangguk. Anggukan kecil yang hampir tidak terlihat dari belakang. "Tapi, Pak ... di lobi, ada Nona Shinta." Barulah Dirga menoleh. Perlahan. Matanya menyipit saat mendengar nama itu. "Beliau ingin bertemu dengan Anda, Pak," lanjut Arman, nada suaranya hati-hati. Dirga berjalan ke arah meja kerjanya, meja kayu jati besar dengan permukaan kaca di tengahnya. Laptop masih menyala dengan laporan keuangan yang belum selesai ia baca. Kursi leather hitam bergerak sedikit saat ia duduk, tubuhnya bersandar dengan tangan di sandaran. "Sudah saya bilang, Arman." Suaranya dingin. "Saya tidak ingin bertemu dengannya lagi. Setelah yang terjadi." "Tapi, Pak—" "Arman!" Dirga memotong cepat. Tatapannya tajam menatap asistennya. Satu kata itu sudah cukup untuk membuat Arman mengerti bahwa percakapan ini selesai. Bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi. Bahwa Dirga tidak peduli seberapa keras Shinta mendesak. Arman sedikit menunduk. Bukan karena takut, tapi karena hormat. Ia sudah terlalu lama bekerja dengan Dirga untuk tidak tahu kapan harus mundur. "Baik, Pak." Ia berbalik, melangkah ke pintu, dan menutupnya pelan di belakangnya. Ruangan itu kembali sunyi. Dirga menghela napas, lalu tangannya meraih mouse, menggerakkan kursor ke dokumen yang belum selesai. Jari-jarinya mulai menari di atas papan keyboard, mengetik angka-angka yang sebenarnya tidak ia butuhkan saat ini. Ia hanya ingin sibuk. Hanya ingin pikirannya tidak kemana-mana. Dan tanpa sengaja, matanya tertuju pada cincin pernikahan di jari manisnya. Cincin itu sederhana. Platinum dengan garis tipis di tengahnya. Tidak ada berlian. Tidak ada ukiran. Dirga membelinya dengan tergesa-gesa di salah satu toko perhiasan di mall. Ia memilih yang paling cepat, yang tidak perlu banyak pengukuran, yang bisa langsung ia kenakan tanpa banyak tanya. Asal. Mendadak. Tanpa makna. Tapi tetap saja itu cincin pernikahan. Cincin yang mengikatnya pada Alranita Salim. Wanita yang seharusnya dinikahi oleh kakak iparnya sampai ia datang dan merebutnya, bukan karena cinta, tapi karena dendam. Jari Dirga berhenti bergerak. Ia menatap cincin itu. Kilau platinumnya di bawah lampu ruangan terasa menyilaukan. Mengganggu. "b******k!" desisnya tajam. Ia tidak tahu siapa yang ia maki. Zaki? Ara? Dirinya sendiri? Tidak penting. Yang ia tahu, cincin itu tiba-tiba terasa terlalu ketat di jarinya, padahal ukurannya pas. Ia ingin melepasnya. Melemparnya ke suatu tempat. Membuangnya. Tapi ia tidak melakukannya. Malas. Atau mungkin ada alasan lain yang tidak ingin ia pikirkan. Dirga kembali mengetik. Lebih cepat dari sebelumnya. Lebih keras. Ujung-ujung jarinya menghantam tuts keyboard dengan suara yang terdengar seperti marah. Di bawah, di lobi gedung, Arman berjalan keluar dari lift. Ia segera mencari sosok itu dengan mata. Wanita berambut panjang sebahu, mengenakan blus sutra berwarna krem dan rok pensil hitam, penampilan yang terlalu modis untuk sekadar "bertemu kenalan", menurut Arman. Shinta berdiri di dekat sofa lobi, satu tangan memegang tas tangan mahal, tangan lainnya memegang ponsel yang tidak ia lihat layarnya. Ia menghampiri Arman begitu melihat asisten itu keluar dari lift. "Arman!" Suaranya meninggi sedikit, cukup untuk membuat beberapa orang di lobi menoleh. "Mana Dirga?" Arman berhenti di hadapannya. Ia menunduk sebentar, mengatur napas, lalu mendongak dengan ekspresi netral. "Nona, maaf, Pak Dirga sedang sangat sibuk. Tidak bisa diganggu." Ekspresi Shinta berubah. Dari harap menjadi kecewa. Lalu dari kecewa menjadi tidak senang. Alisnya yang rapi naik, matanya menyipit, dan bibirnya yang dilapisi lipstik merah muda mengerucut. "Tidak bisa diganggu?" ulangnya, nada suaranya kini mengandung sengatan. "Aku sudah menunggu dari tadi, Arman! Satu jam! Dan kamu bilang dia tidak bisa diganggu?" Arman diam. Tidak membantah. Tidak juga mengiyakan. Shinta melangkah maju. Sekarang jarak mereka hanya satu lengan. Wangi parfumnya yang kuat, sesuatu yang floral dan manis, memenuhi udara di sekitar Arman. "Aku ingin bertemu dengannya, Arman!" Suaranya naik satu tingkat lagi. Matanya membulat, seperti mata orang yang sudah di ambang frustasi. "Aku mau minta penjelasan logis kenapa dia mutusin aku." Tangannya yang memegang tas kini menggenggam erat tali tas itu. "Tiba-tiba semua akses aku diblokir!" lanjutnya, nada suaranya bergetar, bukan karena sedih, tapi karena marah yang tertahan. "WA diblokir, nomor telepon gak bisa dihubungi, IG unfollow, aku juga gak bisa masuk apartemen lagi. Apa-apaan itu, Arman?! Apa salahku?!" Arman tidak tahu harus berkata apa. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia jujur. "Pak Dirga sudah menikah, Nona. Dengan wanita lain." Tapi kalimat itu tidak akan keluar dari mulutnya. Tidak akan. Karena begitu ia mengatakan itu, Shinta akan naik ke lantai sepuluh, akan masuk ke ruang kerja Dirga, dan akan terjadi pertengkaran yang tidak perlu. Dan besok, Arman bisa kehilangan pekerjaannya. "Nona, saya mohon—" "Arman!" Shinta menyentak lengannya. Tangannya menggenggam lengan Arman cukup keras, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Arman tersentak. Matanya menatap Arman dengan intensitas yang tidak nyaman. "Aku yang harus mohon sama kamu," kata Shinta, suaranya kini turun setengah oktaf. Bukan merendah, tapi mengancam. "Biarkan aku ke atas dan temui dia!" "Nona, tapi—" Tapi Shinta sudah bergerak. Tangannya menarik lengan Arman, atau lebih tepat menyeret, menuju lift yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Langkahnya cepat, tegas, seolah ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Arman berusaha bertahan, kakinya mengerem di lantai marmer yang licin, tapi Shinta kuat untuk seorang wanita yang tampak rapuh dari jauh. "Arman kamu kenapa sih?!" Suara Shinta sekarang terdengar hampir frustasi. Ia berhenti menarik, melepaskan lengan Arman, dan menatap asisten itu dengan mata yang sembab, bukan karena menangis, tapi karena menahan tangis. "Apa yang kamu sembunyiin dari aku?!" Arman menarik napas panjang. Ia menatap Shinta. Wanita yang selama dua tahun ini selalu menemani Dirga, yang pernah dia layani dengan sepenuh hati atas perintah tuannya. "Pak Dirga sudah menikah." Kalimat itu meluncur keluar dari bibir Arman dengan sangat terpaksa. Seperti keputusan yang tidak ingin ia ambil tapi tidak ada pilihan lain, lebih baik mengatakan kebenaran daripada membuat keributan di lobi yang akan menarik perhatian pegawai lain. Shinta membeku. Matanya membulat. Bibirnya yang semula mengerucut, kini sedikit terbuka. Tas di tangannya hampir terjatuh, tapi ia masih menggenggam erat, mungkin karena itu satu-satunya yang membuatnya tetap berdiri. "Apa?" bisiknya. Arman mengangguk. Sekali. Tegas. "Maaf, Nona. Saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu." Shinta tidak bergerak. Tidak bicara. Tidak bernapas, atau mungkin bernapas, tapi terlalu pelan untuk dilihat dari luar. Wajahnya yang tadi penuh emosi, kini kosong. Seperti orang yang baru saja ditampar tanpa tahu dari arah mana tamparan itu datang. Di kejauhan, pintu lift berbunyi. Shinta menoleh. Pintu lift yang berjarak kurang dari lima langkah dari tempat mereka berdiri, terbuka perlahan. Di dalamnya kosong, tidak ada orang, tidak ada yang akan keluar. Tapi bagi Shinta, itu adalah undangan. Tanpa berpikir, tanpa melihat ke belakang, ia berlari. Langkahnya cepat, tumitnya yang tinggi berbunyi nyaring di lantai marmer. Tasnya bergoyang di sisi tubuhnya. Rambutnya yang sebahu berkibar sedikit terkena angin dari AC. "Nona! Nona, tunggu!" Arman mengejar. Tapi kakinya tidak secepat Shinta yang didorong oleh amarah dan rasa sakit hati. Ia melihat Shinta masuk ke dalam lift. Ia melihat wanita itu menekan tombol lantai sepuluh, lantai ruang kerja Dirga. Dan ia melihat pintu lift tertutup tepat saat ia tiba di depannya. "Sialan!" Arman membanting telapak tangannya ke pintu lift yang sudah tertutup. Suaranya terdengar memantul di lobi yang mulai ramai. Lampu di atas lift menunjukkan angka naik: L, 1, 2, 3—terus naik ke sepuluh. Arman menarik napas panjang. Lalu menghela. Ia mengeluarkan ponsel dari saku. Medapatkan perintah dari atasannya untuk "mengamankan keadaan" di saat seperti ini. Jarinya bergerak cepat mencari kontak Dirga. "Pak, Nona Shinta naik ke lantai sepuluh. Saya gagal menghentikannya." "Biarkan." Biarkan. Artinya Dirga sudah siap. Atau tidak peduli. Atau punya rencana lain yang tidak perlu ia ketahui. Ia memasukkan ponsel ke saku, menatap lift yang terus bergerak naik, dan menghela napas lagi. Hari ini akan panjang. Sangat panjang. Dan, Arman tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD