Semua orang disana berdiri terpaku dengan bibir mengatup. Tak ada suara selain tangis rintihan Elsa yang masih dijambak oleh Dian. Bahkan, Dhea pun tidak berkutik meringis kesakitan. Jarum infusnya karena tercabut kasar, darah pun berceceran di lantai. Sofian mematung. Untuk pertama kali merasa ciut nyali, hingga gemetar di hadapan anaknya. Tatapan tajam penuh kebencian Leora seolah menghujam dadanya. Setelah hari ini dia benar-benar akan kehilangan anak, yang selama ini tak pernah dia anggap keberadaannya. Tapi, kenapa tiba-tiba dia setakut ini menghadapi kebencian yang menguar di mata anaknya? Sofian tak punya tempat lagi untuk lari dari kesalahannya di masa lalu. “Jawab!” bentak Dian. “Kalau kamu masih merasa layak disebut laki-laki, akui dengan lantang kelakuan bejatmu terhadap Lind

