Setelah selesai makan, Isabel mengajak Mimi masuk ke mobil. Begitu pintu tertutup dan mesin dinyalakan, Mimi langsung duduk kaku seperti patung museum. Isabel meliriknya sekilas. “Kamu kenapa tegang begitu, Mi?” Mimi menatap lurus ke depan. “Saya sedang menenangkan hati, nona. Ini pertama kalinya saya naik mobil sebagus ini sambil diajak… menggoda orang. Dan orang itu pria ganteng dan kaya lagi." Isabel terkekeh. “Lebay.” “Tidak lebay,” bantah Mimi serius. “Mobil ini saja lebih mahal dari hidup saya.” Isabel tertawa, lalu mulai menyetir. Sepanjang perjalanan, Mimi tidak henti-hentinya menatap interior mobil dengan kagum, sesekali menyentuh jok lalu menarik tangannya cepat-cepat. Kemaren dia terlalu tegang, sehingga tidak menyadari kalau dia naik mobil semewah itu. “Ini joknya kulit y

