Mimi tersenyum kikuk, lalu cepat-cepat masuk ke mobil. Begitu pintu mobil tertutup, suasana di dalam langsung terasa… canggung. Setidaknya bagi Mimi. Ia duduk tegak, terlalu tegak. Kedua tangannya diletakkan rapi di pangkuan, punggungnya menempel kaku pada sandaran kursi. Bahkan napasnya terasa dijaga, seolah takut mengganggu udara di dalam mobil mewah itu. Sementara Leon? Santai. Ia menyalakan mesin, satu tangannya memutar setir dengan tenang, ekspresinya sama sekali tidak berubah, seperti ini hanya perjalanan biasa. Mimi meliriknya diam-diam. Ini CEO yang katanya dingin itu? Ucapan Vin tiba-tiba terngiang jelas di kepalanya. “Mimi, kamu hati-hati ya. Tuan Leon itu biasanya dingin banget sama perempuan. Senyumnya cuma ada buat Nona Sherly. Kalau bukan urusan kerja, beliau susah

