27. Ia Datang Tanpa Niat, Tapi Mengubah Segalanya

1176 Words

Malam semakin larut. Lampu kamar menyala temaram, memantulkan kilau lembut pada dinding yang rapi dan bersih, terlalu rapi untuk seorang Mimi. Ia duduk di tepi ranjang empuk, kedua kakinya menggantung, sesekali ditekan-tekan ke kasur seolah memastikan semuanya nyata. “Ini kamar… kayak hotel,” gumamnya pelan. Tangannya mengusap seprai putih yang halus, lalu tertawa kecil tanpa suara. “Mi… mi… sok tahu lu,” omelnya pada diri sendiri. “Tidur di kamar hotel aja belum pernah, udah sok ngerti.” Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit. Hening. Terlalu hening. Dan di situlah perasaan itu datang, pelan, tapi menghantam. Bayangan wajah ayahnya tiba-tiba muncul. Wajah yang selalu terlihat lelah, tapi tidak pernah lupa tersenyum padanya. Mimi menarik napas dalam. Dadanya te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD