Irwan melangkah pelan menyusuri lorong, tongkatnya diketukkan ringan ke lantai, bukan karena perlu, tapi lebih sebagai penutup kegugupan. Padahal tujuan sebenarnya cuma satu: melihat Mimi baik-baik saja. Di depan ruangan Vin, Irwan berhenti. Pintu setengah terbuka. Ia tidak langsung masuk. Hanya mengintip. Di dalam, Mimi sedang berdiri di depan meja Vin. Ada map yang sedikit miring, hampir jatuh. “Bang Vin… ini laporannya berat ya,” keluh Mimi sambil menggeser map ke sisi meja. “Berat karena isinya penting,” jawab Vin santai. “Kalau isinya uang, saya kuat,” sahut Mimi cepat. Vin tertawa. “Kamu ini ya…” “Aku serius, Bang. Uang itu bikin tulang punggung kuat. Lihat saja aku, dari desa ke kota, yang bikin aku masih berdiri sampai sekarang, ya harapan gajian.” Irwan refleks mengan

