89. Ketika Keberanian Akhirnya Datang

1389 Words

Isabel mengikuti langkah Leon di lantai dansa, tubuhnya bergerak otomatis, seolah sudah hafal ritme itu sejak lama. Tangannya berada di genggaman Leon-hangat, mantap, dan entah kenapa… berbeda. Tenang, Is. Ini cuma dansa. Satu lagu saja. Namun jantungnya tidak sependapat. Setiap kali Leon menatapnya, ada rasa asing yang membuat dadanya bergetar pelan. Takjub. Canggung. Dan… berbahaya. Kenapa aku harus merasa begini? Bukankah sejak dulu Leon hanya menganggapnya teman? Saudara? Adik kecil yang selalu ada di samping, tapi tak pernah benar-benar dilihat? Isabel menelan ludah. Ia teringat betapa seringnya ia memendam rasa itu sendirian. Menertawakan dirinya sendiri. Belajar ikhlas saat Leon memilih Sherly. Belajar mundur tanpa pernah diminta. Ini hanya nostalgia yang lewat, batin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD