Yuni menjemput kedatangan ibunya, Siti, dengan langkah gontai. Begitu melihat kondisi putrinya, sorot mata Siti langsung mengeras. Rambut Yuni kusut, wajahnya pucat, matanya bengkak dan sembab jelas bekas menangis semalaman. “Kau ini kenapa jadi selemah ini, Yun?” bentak Siti tanpa basa-basi. “Sudah bertahun-tahun tinggal di kota, dekat dengan Dika, tapi tetap saja kau tak bisa mengikat hatinya! Tidak berguna!” Yuni terisak. Tangannya refleks menutup perutnya yang masih datar. “Tapi… aku sudah hamil anak Dika, Bu,” suaranya gemetar. “Dia tetap tidak peduli. Bahkan dia menyuruhku menggugurkan kandungan ini. Aku harus bagaimana lagi?” Siti mendengus tajam. “Makanya Ibu bilang dari dulu, jangan cengeng!” “Lihat Mimi itu. Waktu mau Ibu nikahkan dengan tuan tanah tua saja, dia tidak m

