Di balik ketegangan yang terpancar di wajah Sasa, bukan hanya kecemasan yang menggerogoti hatinya, tapi juga rasa takut yang mengikat erat jiwa. Pandangannya yang sendu membuat Rey semakin bingung dan penasaran. "Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? Kenapa kamu ragu dengan orang tuamu sendiri? Sebenarnya, apa pernah kamu cerita tentang aku pada mereka?" tanya Rey, suaranya dipenuhi harap. Sasa menghela napas panjang, seolah menahan badai di dalam d**a. "Maafkan aku, Mas .... Orang tuaku memang sudah tahu kalau kita pacaran. Bahkan, waktu itu kamu pernah ngomong sama mereka lewat telepon, 'kan? Tapi, aku nggak pernah bilang siapa sebenarnya kamu. Aku cuma bilang kamu pegawai biasa, bukan CEO, apalagi anak pemilik perusahaan." Dia menunduk, suaranya bergetar, "Aku benar-benar minta maaf

