"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" Suara Alvaro yang lembut seperti angin sepoi-sepoi itu, mengguncang kesunyian pikiran Erika. Erika terkejut, terlepas dari lamunannya yang pekat. Dengan sedikit gemetar, dia bangkit, dibantu tangan kokoh Alvaro hingga berdiri tegap kembali. "Iya, kak. Aku nggak apa-apa. Makasih, ya." Suaranya lirih, namun ada getar kelegaan yang sulit ia sembunyikan. Namun tiba-tiba, wajahnya berubah sedikit kesal. "Orang tadi resek banget, sih. Jalan seenaknya sendiri, nggak liat-liat. Bisa bahaya, lho!" Alvaro mengangguk, pandangannya serius menatap sekeliling. "Iya, sama-sama. Aku lihat orang tadi terburu-buru, mungkin ada sesuatu yang urgent," ujarnya. "Tapi tetap saja, memang harus berhati-hati. Kalau sampai ceroboh, bisa menyakiti orang lain." "Nah, itu dia. Aku juga

