Begitu Erika hendak masuk ke dalam rumah, tepat saat Adi mendorong kursi rodanya menuju pintu keluar. Dengan sigap, Erika menghentikan ayahnya itu, tatapannya penuh kekhawatiran. "Pa, Papa mau ke mana? Jangan keluar ya, Pa." Suaranya mengandung nada lembut yang memohon. Adi menatap putrinya dengan tegas, matanya membara penuh tekad. "Papa tidak akan diam! Papa harus menegur laki-laki itu. Kenapa dia masih berani muncul di sini, mengusik ketenangan kamu?" Erika menggeleng cepat. "Biarkan saja, Pa. Tadi aku juga sudah ngomong sama dia. Papa nggak perlu khawatir." "Kamu yakin baik-baik saja, Sayang? Apa kamu benar-benar tidak merasa risih terus diganggu oleh orang seperti dia?" Adi ingin memastikan, ragu namun penuh kasih. Erika tersenyum, meyakinkan dengan suara lembut namun penuh tekad

