Bab 03. Satu Tahun Penuh Kebahagiaan

1118 Words
Meski Erika tahu benar, Reno tak pernah mencintainya, Namun demi sahabat yang sangat disayanginya, Dania, dia rela menjadi pengantin pengganti, memenuhi keinginan terakhir yang seolah memanggil namanya. Apalagi sejak SMA, hati Erika memang sudah berlabuh pada Reno, meski diam-diam dia memilih mengalah, membiarkan Dania merajut kisah dengan kakak kelasnya itu. Bahkan dialah yang menjadi mak comblang di balik hubungan mereka, yang kini tampak begitu kokoh dan tak tergoyahkan. Tapi takdir rupanya punya cara lain. Ketika Dania tiba-tiba tewas dalam kabut misteri yang tak pernah Erika pahami, semuanya berubah. Kini, bayang-bayang Dania digantikan oleh dirinya sendiri yang berdiri di ambang janji baru, mengisi posisi yang awalnya bukan untuknya. Dalam hati, Erika menanamkan tekad yang membakar: Suatu saat, Reno akan mencintainya. Meskipun nyeri dan sulit, ia takkan menyerah pada takdir. *** Hari-hari terus berlalu tanpa henti, seperti gelombang yang tak kunjung reda di samudera kehidupannya. Sudah dua bulan sejak kisah rumah tangga Erika dan Reno berjalan, namun perasaan di dalam d**a Reno bagai dinding yang retak, rapuh dan menyisakan luka yang tak kunjung sembuh jika mengingat kepergian calon istrinya yang mendadak. Meski demikian, Erika, dengan segala usaha dan ketulusan, berjuang menjadi istri yang sempurna, menjalankan setiap kewajiban tanpa pernah lelah. Sementara Reno sendiri berusaha membalas kebaikan istrinya, meski hatinya selalu tercekat saat berada di dekat wanita itu. Bayangan Dania, sosok yang dulu mengisi hidupnya dengan tawa dan haru terus menghantui pikirannya, hadir dengan sendu yang mengerikan, menggerogoti setiap sisa harap yang tersisa. Meski belum pernah menemukan bukti nyata bahwa Erika terlibat atas kepergian Dania, keraguan itu membayang di setiap sudut hatinya. Namun, sikap Erika yang tulus membuat Reno terperangkap dalam dilema paling dalam, dia jatuh cinta pada wanita itu begitu cepat, di tengah kenangan yang belum sepenuhnya usai. Bahkan Reno juga mengizinkan Erika memanggilnya dengan sebutan 'mas', sama seperti Dania. Tapi bukan berarti dia melupakan Dania, hanya saja jiwa wanita itu yang kini telah tenang di sana, seolah memohon agar Reno bisa melepaskan segala beban dan menemukan kebahagiaan baru. Dengan hati yang berat, Reno mencoba meneguhkan diri, merengkuh ikhlas yang pahit, menahan gejolak cinta dan kesedihan yang berkelindan. Sebuah pertarungan sunyi dalam jiwa yang tak tahu harus memilih antara masa lalu yang menyakitkan dan masa depan yang penuh harap. Apalagi, Erika telah mengorbankan segalanya, menyisihkan dunia glamor modeling demi menjadi seorang istri yang berbakti, bukankah berarti wanita itu juga pantas untuk mendapatkan kebahagiaan? *** Tanpa terasa, satu tahun penuh kebahagiaan pernikahan mereka, tumbuh dalam pelukan harapan. Namun tiba-tiba semuanya runtuh menjadi puing-puing ketika Bella muncul kembali dari luar negeri. Dengan sejuta bisik fitnah yang mengerikan, Bella menyerang rumah tangga Reno dan Erika, menghancurkan pondasi kebahagiaan yang selama ini sudah susah payah mereka bangun. Kebencian menggerogoti hati Bella, karena baginya, kebahagiaan mereka adalah penderitaan baginya. "Apa kamu benar-benar sudah mencintai Erika sekarang, Kak? Apa kamu sudah lupa tujuan awal kamu menikah dengannya? Dia yang sudah membunuh Kak Dania!" tuding Bella penuh amarah, menghampiri Reno di perusahaannya. Reno menatap Bella dengan mata yang masih berjuang melawan ketidakpercayaan. "Jangan asal bicara, kamu! Dia adalah istri yang baik. Aku mencintainya, tapi itu tidak berarti aku sudah melupakan Dania. Dania sudah tenang di sana. Aku juga butuh seseorang yang bisa kuandalkan di dunia ini." Suaranya bergetar, penuh kebingungan dan luka yang belum sembuh. "Tapi, Kak, Erika itu sudah lama mencintai kamu. Jadi, masuk akal kalau dia tega membunuh Kak Dania tepat di hari pernikahan kalian. Tujuannya jelas, dia ingin menggantikan posisi Kak Dania!" Bella melontarkan kata-kata itu dengan yakin. Reno tersentak, jantungnya berdegup kencang. "Apa maksudmu? Erika mencintaiku sejak lama?" ulangnya, suaranya bergetar tak percaya. Mengangguk. Bella menatap Reno dengan tatapan penuh keyakinan. "Iya, Kak. Kamu tidak perlu tahu dari mana aku tahu soal ini. Tapi kalau kamu tidak percaya, tanyakan langsung saja dengan istrimu itu!" *** Walau ragu dengan kata-kata Bella, Reno tidak bisa menahan rasa penasaran yang membakar dadanya. Begitu sampai rumah, napasnya tak karuan, ia segera ingin bertemu istrinya. "Mas, kamu sudah pulang? Mandi dulu, ya. Aku sudah siapkan air panas," ucap Erika lembut, suaranya menenangkan seperti biasanya. Kelelahan yang membayangi Reno perlahan mencair, namun dalam hatinya, badai pertanyaan masih berkecamuk. Meskipun sudah menikah selama satu tahun, mereka belum juga diberkahi seorang anak. Tidak ada yang salah di antara mereka, hanya rejeki yang belum berpihak. Reno menatap Erika dengan tatapan serius, suaranya bergetar saat berkata, "Ada sesuatu yang mau aku tanyakan. Aku harap kamu mau menjawab dengan jujur." Erika menatap suaminya, kebingungan dan khawatir bercampur dalam matanya. "Ada apa, Mas? Apakah ada masalah?" Reno menarik napas dalam-dalam, matanya tak lepas dari sosok Erika. "Aku minta kamu jujur, apa benar kamu sudah mencintaiku sejak lama? Tepatnya sejak kita masih di SMA dulu?" Pertanyaan itu menghujam hati Erika seperti petir di siang bolong. Dia terpaku, tak pernah menyangka Reno akan mengungkit masa lalu yang selama ini dia simpan rapat. Dari mana suaminya itu tahu? Dia yakin tak pernah membocorkan pada siapa pun, bahkan pada Dania. Dengan suara yang lembut tapi tegas, Erika menjawab, "Mas, soal sejak kapan aku mulai mencintai kamu, itu bukanlah yang terpenting. Yang penting sekarang adalah kita. Aku adalah istrimu dan kamu adalah suamiku. Cinta itu sudah tumbuh bersama kita dan tugas kita saat ini adalah menjaga rumah tangga ini." Dia menggenggam tangan Reno erat-erat. "Kita menikah bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga karena amanat dari Dania. Jadi, ayo kita fokus pada hari ini dan masa depan kita bersama." Di antara hening yang menyelimuti, ada secercah kehangatan yang tumbuh kembali. Cinta mereka memang berakar dari masa lalu, tapi harapan dan janji di masa depanlah yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Erika berpikir, Reno yang terdiam, setuju dengan kata-katanya. Namun tiba-tiba suaminya itu menatap tajam, menusuk. "Jawab, Erika! Apa itu benar?" Suara Reno meninggi, menusuk telinga Erika seperti cambukan yang mengoyak ketenangannya. Jantung Erika berdegup liar, napasnya tersengal-sengal saat dia memandang ke arah pria di depannya. "Aku … aku memang sudah lama mencintai kamu, Mas. Sejak kita masih SMA." Akhirnya dia mengakui, suaranya tercekat oleh beban rahasia yang selama ini disembunyikan. "Tapi aku tahu, Dania juga mencintai kamu. Untuk itu aku memilih untuk mengalah, membiarkan dia mengejarmu, bahkan aku membantunya. Aku benar-benar merelakan kalian bersama, Mas." Matanya berkaca-kaca, menahan tumpahan perih yang mencekik dadanya. "Tapi … aku juga nggak pernah menyangka, akhirnya justru aku yang bersama kamu." Mendengar itu, tatapan mata Reno menjadi lebih tajam, penuh amarah yang membakar kalbunya. Tanpa pikir panjang, tangannya merangsek, mencengkeram leher Erika dengan kekuatan yang membuat napas istrinya itu tercekat. "Ternyata benar, kamu lah dalang di balik kematian Dania! Semua itu hanya akal-akalanmu, pura-pura mengalah tapi akhirnya kamu membuatku dan Dania tidak bisa bersama! Kamu mengatur semuanya supaya kamu bisa merebutku. Perempuan licik!" bentak Reno, suaranya keras, menyesakkan ruangan. Erika tercekik, matanya membelalak ketakutan, namun dalam keheningan yang menyiksa itu, hatinya bergemuruh. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD