Kata-kata itu mengalir begitu ringan dari bibir Erika. Padahal sebenarnya, dirinya sendiri sangat berhati-hati dengan setiap uang yang ia keluarkan. Bahkan dia lebih suka menabung daripada boros. Tapi kali ini, seolah-olah ada suara bisikan licik di dalam hatinya yang berkata, jangan sia-siakan kesempatan untuk menghabiskan uang Rey. Jumlahnya bukan angka main-main dan kesempatan itu terlalu menggoda untuk dilewatkan. "Mbak, serius? Harga tas itu benar-benar gila." Sasa membuka suara dengan nada tak percaya. "Iya, Sa. Tapi, nggak gila juga lah," jawab Erika santai, seolah angin lalu. "Ya, bukan begitu maksud saya, Mbak. Harga tas segitu bisa buat beli rumah subsidi satu unit, lunas pula," ujar Sasa sambil melongo. Di sisi lain, Alvaro mencondongkan badan, suaranya berbisik, "Sayang, k

