Mobil Kai baru saja berhenti di depan pintu gerbang rumah Senja. Sengaja tidak masuk ke pekarangan karena rumah wanita itu berada di pojok perumahan, jadi hampir tak ada kendaraan yang lalu-lalang. “Aku langsung turun, ya,” kata Senja, sibuk merah enam paper bag berlogo brand ternama di jok belakang. “Sudah malam, jadi aku nggak nawarin kamu masuk.” Kai menghembuskan nafas kasar. “Setidaknya basa-basi dulu, kek, Love,” protesnya. “Kamu tawarin aku mampir, nanti aku jawab, ‘Kapan-kapan aja ya, Love. Sudah malam, enggak enak bertamu.’” “Ngapain sih harus mempersulit hidup, Kai?” “Bukan mempersulit hidup, tapi memperlancar komunikasi.” Kai memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Senja lebih jelas. “Kamu sadar nggak sih kalau komunikasi kita buruk sekali?” Senja memutar bola mata, lalu men

