Satu bulan setelah kepergian Senja yang begitu tiba-tiba, tak ada satu pun yang tahu dia pergi ke mana, bagaimana keadaannya, atau kapan akan kembali. Setiap hari Kai uring-uringan seperti orang kesurupan. Dia tetap datang ke kantor, menyelesaikan setiap deadline pekerjaan. Rapat yang telah dijadwalkan tetap terlaksana, keputusan saat ada masalah pun diambil dengan cepat. Masalahnya ada di emosinya yang meledak-ledak… seperti bom waktu yang siap menghancurkan siapa saja yang melakukan kesalahan. Handaru sampai harus memeriksakan kondisi jantungnya—bagaimana tidak, hampir setiap satu jam sekali pintu ruangan Kai dibanting keras hanya karena satu laporan yang terlambat beberapa menit. “Han—” Merasa ada yang memanggilnya, Handaru langsung mengangkat wajah. Kedua telinganya masih ters

