BIBIT FOBIA

2935 Words

“Masih 37,0,” gumam Anne, menatap layar termometer. Ben mendekat, ikut-ikutan membaca layar display. “Berarti sudah turun, baby. Alhamdulillah.” “Iya sih… tapi masih bakalan naik lagi ngga ya?” Anne mengusap pelipis Safa yang menempel di dadanya. “Kalau ngga karena kadung janjian sama klien, aku ngga bakalan ke kantor deh.” Ia menatap Safa yang sibuk memainkan kancing piyama berbentuk kupu-kupu — selepas menyusu. Lima hari demam naik turun, akhirnya Safa nyaman meneguk langsung dari tubuh ibunya. “Kerja aja, baby. Kliennya spesifik minta kamu yang desain lho. Mana dari jauh pula,” sahut Ben. Safa menguap, lalu berusaha duduk, berdiri, memeluk Anne di leher. Seolah hendak berkata; ‘ngga usah berangkat kerja aja, Ibun.’ Ben mengusap pipi Safa. “Aku sudah bilang Raka dan email HR semalam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD