“Kwak-kwak!” “Ada berapa bebeknya itu, Fa?” tanya Ben. “Wan tu wan tu wan tu!” celoteh Safa. Ben terkekeh geli. “Kwak-kwak ada apa wan tu.” “Ngga ada apa-apa, bebeknya mau berenang, bukan lagi mikirin cicilan,” sahut Ben. Anne yang mendengar kalimat konyol suaminya sontak tergelak. “Here they come, the beautiful ones, the beautiful ones. La, la, la, la,” dendang Ben. “Lalalala!” sambung Safa. Anne terus saja tersenyum, menyenangkan rasanya melihat suami dan putrinya mengisi waktu bersama. Pagi itu, langit tampak cantik dan spesial. Matahari bersinar lembut, menembus tirai tipis ruang keluarga. Bias jingga masih mengisi batas cakrawala, lengkungan pelangi mengisi sebagian kanvas biru, awan-awan juga bergerombol—seolah bertumpuk jika dilihat dari jendela ruang tengah rumah

