DIRAWAT

1833 Words

Jam dinding menunjukkan pukul 06:00 saat Anne menyibak tirai jendela dapur sambil menggendong Safa. Langit masih berbias jingga, embun tampak menetes dari ujung daun, sementara matahari menyapa dengan sinar lembutnya. “Good morning world,” ujar Anne. “Safa sudah cantik nih.” “Uwwaaa,” gumam Safa, tak jelas apa maksudnya, mungkin ikut menyapa sang rembulan yang samar tampak masih enggan meninggalkan bumantara. Ben menyusul ke dapur dengan menenteng tas kerjanya. Ia langsung beringsut ke depan mesin espresso. Suara desisnya mengisi ruang, sementara Safa sibuk menoleh ke kanan-kiri, mencari sumbernya. “Ayah lagi bikin kopi, Fa,” ujar Anne. Ia bergeser, meletakkan Safa di bouncher. “Ibun ambil tas sebentar, ya…” lanjutnya, lembut. Safa masih tersenyum, senang menatap wajah favoritnya. Nam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD