Jam 02.47 dini hari. Lampu berbentuk awan menyala redup di sudut kamar. Suara detik jam berpadu dengan bunyi isapan Safa yang tengah menyusu—ritme paling familiar selama hampir tiga minggu terakhir. Anne duduk bersandar di kursi menyusui, matanya sayu, dan punggung terasa kaku. Tubuhnya masih belajar beradaptasi dengan jam biologis yang kacau dan tak bisa diprediksi. Ben duduk di karpet, punggungnya bersandar ke kaki kursi. Ia menarik napas dalam dengan kelopak mata yang hanya terbuka setengah. “Kayaknya Safa beneran lagi growth spurt,” gumam Anne, suaranya tak stabil karena sebagian otaknya memberi perintah untuk tidur namun sebagian lainnya mencoba mempertahankan kesadaran setidaknya sampai sang bayi kembali lelap. “Growth spurt... yang nyusu terus-terusan?” tanya Ben, hanya untuk m

