Hari itu langit tampak mendung. Hujan gerimis turun dengan ritme pelan, seolah mengiringi perjalanan hati Delima yang penuh ketidakpastian. Elang menyetir mobilnya dengan tenang, meskipun hatinya tidak seratus persen nyaman. Di sampingnya, Delima duduk diam, memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Elang melirik Delima sesekali, tapi tak berkata apa-apa. Hanya ada suara rintik hujan di kaca depan yang mengisi keheningan di antara mereka. Setelah sekian waktu, lelaki itu akhirnya memecah sunyi. "Delima," katanya lembut, "Kamu yakin ingin melakukannya? Nando nggak pernah mau menerima tamu, apalagi bertemu langsung denganmu." Delima menghela napas panjang, kemudian menoleh ke arah Elang. "Aku harus. Kalau nggak, aku nggak akan pernah merasa tenang. Aku ingin memastikan Nando baik

