Bab 111 | Merindu Dekap

2912 Words

Sampai adzan subuh berkumandang, Sheya tetap tidak bisa tidur, tatapannya nanar ke langit-langit rumah sakit dengan hati yang terus terasa sesak dan air mata yang terus jatuh hingga membuat matanya perih dan semakin bengkak. Dia tidak mengantuk sama sekali, namun dia merasa kepalanya berat efek menangis sepanjang malam yang hingga pagi datang pun dia masih tidak bisa menghentikan laju air matanya. Dia sampai lelah sendiri, tapi tetap tidak bisa menanggulangi perasaannya yang tumpang tindih, air matanya tetap jatuh meski tidak ada isak tangis. Pikirannya runyam namun juga dipenuhi rasa syukur. Paham, tidak? Kejadian semalam masih menghantuinya dan membuatnya takut, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan bagaimana jika begini dan begitu, namun juga bersyukur dengan keadaan suaminya ya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD