Juna membetulkan kaca mata bacanya yang turun ke hidung, lalu kembali fokus pada tabletnya, namun tatapannya sesekali melirik pada kedua putrinya yang asik sendiri. Bibirnya refleks melengkung ke atas, tersenyum semakin lebar saat melihat tingkah Anas dan Naira. Di permadani berbulu itu Anas terlihat sedang membawa meja lipat, sedangkan Naira duduk dengan patuh setelah kakaknya memberi instruksi supaya Naira duduk. “Nah … Adik … Sekarang kita belajar dulu sebelum bermain lagi.” Ucap Sera sambil membuka lipatan meja itu, meletakkan di depan Naira, sehingga kini mereka duduk saling berhadapan dan lesehan. Naira terlihat mengangguk-angguk seperti biasa, lalu tangannya terangkat dan dia melipat tangannya di meja itu layaknya murid baik. “Nah bagus, seperti itu duduknya, murid pintar.”

