Juna mengulum senyum saat melihat Sheya mulai siuman, kelopak mata wanita itu perlahan terbuka, dengan kening yang mengernyit dalam, seolah sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Sayang.” Suara Juna mengalun begitu lembut dan merdu. Juna mengusap wajah Sheya, dan mengusap lembut kening sang istri. “Mas …” Sheya terlihat kebingungan, dia berusaha bangun sambil menumpukan kedua sikunya ke ranjang, mencerna situasi dan mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Juna dengan sigap membantu supaya sang istri bisa bersandar dengan nyaman di kepala ranjang. “Masih pusing, sayang? Mual tidak?” Tanya Juna dengan tatapan yang meneduhkan dan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. “Aku... kenapa?” Sheya menatap suaminya dengan bingung setelah berhasil mengumpulkan ingatan atas apa

