“Sudah ya, aku turun,” ucap Lara mengakhiri pembicaraan mereka.
“Tunggu, kita belum selesai bicara,” tahan Bisma.
“Mau bicara apalagi sih mas? Aku sudah bilang kamu tak perlu mengganti handphoneku.”
“Pembicaraan kita bukan hanya itu, aku juga ingin minta maaf atas sikapku kemarin.”
“Ck! Kalau itu aku maafkan kapan-kapan,” jawab Lara sebal sambil kembali mencoba membuka pintu dan lagi-lagi Bisma menahan tangannya.
“Bisa gak sih kamu duduk tenang dan bicara secara serius sebentar saja?” pinta Bisma merasa kesal dengan sikap Lara.
“Aku selalu serius dengan ucapan dan sikapku! Karena serius, aku memutuskan tak ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan pria mengerikan seperti mas Bisma!”
“Lara! Aku minta maaf atas kejadian kemarin, dan aku sudah menjelaskan semuanya pada Eyang Ajeng, tenanglah.”
“Ya, kamu menjelaskan semuanya versi mas Bisma kan?!”
“Iya! Aku juga sudah menjelaskan versiku kenapa aku sampai mencium kamu! Eyang Ajeng sudah tidak berpikiran buruk lagi tentang kamu! Dia mengerti!”
“Akh! Mengerti apa?! Semua orang hanya berpikir aku melakukan ini karena patah hati soal Reno dan melampiaskannya pada Fitri! Tapi ini lebih dari itu!” ucap Lara sambil menghempaskan tubuhnya ke jok mobil.
“Apa?”
Lara terdiam, ia hanya dia mengendus kesal sambil melipat kedua tangannya dan melemparkan pandangannya keluar jendela. Ia menyadari bahwa ia hampir saja keceplosan bahwa ini tak hanya soal Fitri, tapi juga Frida.
“Sudah ya mas, ini bukan urusanmu. Biarkan aku menyelesaikan sendiri semua urusanku dengan caraku,” ucap Lara pelan dan lagi-lagi mencoba untuk membuka pintu mobil.
Dan lagi-lagi Bisma menahan tangan Lara.
“Ini juga jadi urusanku karena aku telah membuat namamu buruk dihadapan keluargamu sendiri.”
“Ck, aku tahu kamu melakukan itu karena membela Fitri. Wajar kok untuk membela perempuan yang kamu sayangi,” sindir Lara.
“Lara!”
“Kamu pikir aku bodoh apa?! Dulu, sewaktu aku masih dekat dengan Fitri, dia selalu cerita bahwa kalian berdua selalu sarapan pagi bersama! Mana ada atasan dan bawahan sarapan pagi bersama seperti itu kalau tak ada perasaan satu sama lain?! Dengan kamu sering mengantarkannya pulang saja sudah menjadi pertanyaan! Apa lagi kemarin, sudah mengantar pulang masih mampir untuk berbincang, masih kangen? Gak puas ngobrol selama di kantor?”
“Kamu juga sama! Mana ada orang yang percaya kalau kamu hanya kesal karena Fitri tak bercerita bahwa Reno menyukai dirinya?! Dengan sikapmu yang seperti gadis gila begini semua orang akan berpikir kamu cemburu pada Fitri karena dia mendapatkan semuanya lebih dari kamu, walau kamu yang jadi cucu kandung eyang Ajeng!”
Lara terdiam seribu bahasa. Ucapan Bisma menohok perasaannya. Tiba-tiba rasanya ia ingin menangis karena dadanya terasa sakit dan sedih.
Ia tak pernah iri pada Fitri karena bisa menikmati semua fasilitas yang ada di rumah itu. Ia tak pernah iri karena Fitri bisa mendapatkan les dan kursus sana sini, ia tak pernah iri ketika semua orang menganggap Fitri lebih cocok jadi cucu Ajeng karena lebih anggun, berpendidikan tinggi dan elegan.
Ia hanya kecewa karena Fitri menjadi salah satu seperti temannya yang lain. Ia kecewa karena Fitri tempatnya bercerita, orang yang ia percaya malah menjadi orang yang membuatnya kecewa dan merasa malu. Ia hanya sangat marah karena ternyata Frida juga mengambil ayahnya dari diri Lara dan ibunya.
“Lara…,” panggil Bisma pelan ketika melihat gadis itu terdiam dan meneteskan air mata tanpa sadar.
Lara menatap Bisma dalam seraya berkata,
“Aku gak pernah iri sama rejeki orang lain! Aku gak pernah iri pada Fitri jika ia mendapatkan semuanya dari Eyang, mungkin itu memang rejekinya! Tapi apa aku tak boleh marah dan kecewa ketika orang terdekatku yang menjadi pengkhianat terbesar?! Apa aku tak boleh kecewa kalau tante Frida …”
Lara menghentikan ucapannya dan segera menghapus air matanya kasar. Ia tak perlu menceritakan masalahnya pada orang lain, toh tidak akan ada yang peduli. Lara segera membuka pintu mobil dan bergegas meninggalkan Bisma.
“Lara! Tunggu!” panggil Bisma segera ikut keluar dari mobil dan berjalan mengejar langkah Lara ke dalam rumah.
Tiba-tiba Lara menghentikan langkahnya dan membuat Bisma segera menarik tangan gadis itu. Lara segera menutup mulut Bisma dengan tangannya lalu mengajaknya seolah bersembunyi di balik tembok.
Terdengar suara perdebatan antara Fitri dan Reno.
“Aku gak bisa mas! Aku gak bisa! Aku sudah membuat Lara terluka begitu dalam! Jika kita bersama, hanya akan membuat hubunganku dengan Lara semakin kacau dan ia semakin meradang tak menentu!” ucap Fitri sambil terisak.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu! Kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelum kita benar-benar memutuskan untuk mengumumkan hubungan kita keluar sana! Kita sudah siap bukan kalau Lara kecewa dan bikin ulah?! Aku sudah melamarmu Fitri, orang tuaku sudah setuju!”
“Tapi aku gak yakin, mas!”
“Apa yang membuatmu gak yakin?!”
“Aku gak yakin dengan perasaanku sendiri! Aku gak yakin kalau aku benar mencintaimu atau tidak!”
“Fit!”
“Aku menyukai seseorang!”
Ucapan Fitri membuat Lara dan Bisma saling pandang dan segera bergerak mundur perlahan keluar dari rumah.
“Rasain kamu!” ejek Lara menatap Bisma penuh kemenangan karena ia yakin orang yang disukai Fitri adalah Bisma.
“Aku ikut permainanmu,” ucap Bisma perlahan tiba-tiba pada Lara.
“Apa?” tanya Lara bingung.
“Kamu ingin Fitri cemburu dan terluka karena dekat denganku bukan? Ayo!” ucap Bisma lagi sambil menatap Lara dalam.
“Tumben?”
Perlahan Bisma mengambil jemari tangan Lara lalu mengajaknya untuk berdiri ditengah halaman dimana Fitri dan Reno bisa melihat mereka dari dalam. Bisma menghembuskan napas pelan. Ia tahu ini salah dan tampak kekanak-kanakan. Tapi ia juga tahu satu hal, Fitri tidak boleh semakin berharap padanya.
“Peluk aku,” suruh Bisma.
“Buat apa? Ohhh, aku mengerti. Kali ini kamu yang ingin menyakiti hati Fitri agar ia tak tertarik lagi padamu bukan? Tapi kalau aku peluk-peluk kamu, dia akan benci padaku?” ejek Lara menatap Bisma dengan pandangan nakal.
“Sudah tidak apa. Bukankah ini yang kamu mau?” ucap Bisma balik bertanya.
“Tentu saja!” ucap Lara dengan mata berkilat sambil melompat ke dalam pelukan Bisma sehingga pria itu menggendong Lara seperti ia menggendong anak kecil.
“Lara!”
“Ck, bukannya mas Bisma suka sekali dengan Fitri sehingga tak ingin menyakiti hati gadis itu buat bersama pria b******k kaya kamu! Ayo kita sakiti dia! Biar dia gak berharap sama kamu!” ucap Lara melonjak-lonjak digendongan Bisma senang.
“Dasar perempuan gila!” gumam Bisma.
Lara hanya tersenyum senang, mengalungkan tangannya di leher Bisma erat. Kali ini bukan soal Fitri yang ingin ia sakiti hatinya, tapi ia ingin mengejek Bisma yang pengecut karena tak bisa mengungkapkan perasaannya.
Bersambung.