Bisma memalingkan wajahnya keluar jendela. Kini ia dan Lara masih berada di dalam mobil yang terparkir di garasi rumahnya.
Di tangan Bisma sudah ada inhaler yang baru saja pak Yunus belikan di apotik saat perjalanan menuju rumah. Berkat inhaler itu nafasnya sudah mulai membaik dan terasa lega, tetapi kepanikannya tadi membuat Lara kini hanya mengenakan pakaian dalam yang pahanya ditutupi dengan kemeja batik miliknya.
Sedangkan pak Yunus saat ini tengah mengambil kebaya dan kain milik Lara tanpa berusaha melihat ke bangku belakang
“Tolong masukan kebaya itu ke laundry, lalu bilang sama Parmi untuk tidak masuk ke dalam rumah, istirahat saja di belakang. Setelah itu bapak bisa kembali ke acara naik taksi,” suruh Bisma sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada pak Yunus.
“Baik mas, tunggu disini sebentar ya, biar saya bilang dulu sama mbak Parmi supaya dia kebelakang,” ucap pak Yunus yang seolah mengerti, bahwa asisten rumah tangga Bisma yang bernama Parmi itu harus diungsikan dulu agar tak melihat Lara yang masuk ke dalam rumah dengan pakaian minim.
Bisma mengangguk dan tetap mengalihkan pandangannya ke arah lain, sampai pak Yunus kembali bahwa Parmi sudah di dalam kamarnya sehingga Bisma juga Lara bisa turun dengan tenang tanpa ada yang melihat.
“Ayo turun,” ajak Bisma sambil membuka pintu mobil.
“Nggak ah! Aku gak berani mas! Aku takut kalau tante Laila tiba-tiba pulang dan melihat aku setengah telanjang begini!” tolak Lara cemas.
Ia tak menyangka bahwa akan terbawa ke rumah Bisma untuk pertama kalinya.
“Ck! Ini rumahku sendiri! Mama tidak tinggal disini! Ayo turun, sebelum asisten rumah tanggaku lihat kamu begini,” ucap Bisma cepat.
Dengan ragu Lara turun dan menutupi pahanya dengan kemeja batik Bisma.
“Tunggu! Aku jalan duluan!’ ucap Bisma cepat karena tak ingin melihat bagian belakang tubuh Lara yang tak tertutup.
Pria itu segera membuka pintu yang menghubungkan dari garasi rumah bagian dalam.
“Ini kamar tamu, kamu bisa mandi disini. Nanti aku antarkan alat mandi dan pakaian ganti,” ucap Bisma tanpa menoleh kebelakang.
“Aku udah mandi, ngapain aku mandi lagi?” protes Lara.
“Aku gak mau ada bulu kucing yang menempel di badan kamu! Masuk sana!” ucap Bisma tak ingin dibantah.
Lara hanya bisa merengut dan segera masuk ke dalam kamar tamu itu, menyalakan ac dan menunggu Bisma mengantarkan pakaian ganti, handuk juga peralatan mandi. Tak lama pintu pun diketuk, Lara membuka pintu sedikit dan Bisma segera memasukan tangannya memberikan semua yang dibutuhkan Lara.
“Kalau sudah mandi aku tunggu kamu di luar,” ucap Bisma pelan.
Lara hanya diam dan segera menutup pintu. Ia segera membersihkan diri lalu mencoba pakaian yang diberikan Bisma.
Gadis itu mendengus kesal karena ia diberi kaos dan celana pendek milik Bisma yang kebesaran di tubuh Lara yang ramping.
Dengan ragu Lara segera keluar dari kamar tamu dan celingak celinguk menatap rumah yang sangat sepi itu.
Rumah itu cukup besar untuk ditinggali oleh seorang duda sendirian seperti Bisma.
“Ngapain celingak celinguk? Sini!” panggil Bisma dari sudut lain membuat Lara menoleh ke arahnya dan terlihat Bisma tengah membuat sesuatu di dapur bersihnya yang terlihat dari tempatnya berdiri.
Lara segera berjalan dengan memegangi pinggangnya menahan celana kedodoran milik Bisma. Gadis itu menatap Bisma yang tampaknya juga baru selesai mandi karena rambutnya masih basah.
Wajah pria itu tampak pucat, dengan mata yang masih kemerahan, tengah membuat minuman panas untuk melegakan pernafasannya.
“Kamu mau minum apa?” tanya Bisma menoleh sekilas pada Lara.
“Nggak usah, aku mau pulang saja,” ucap Lara cepat.
“Tunggu sebentar, kepalaku masih pusing dan nafasku masih berat. Nanti aku antar pulang.”
“Jangan lama-lama ya, aku gak bisa berdiri sambil memegang pinggang begini,” keluh Lara.
“Kenapa sih pinggangnya dipegang begitu?!” tanya Bisma gusar melihat sikap Lara yang berjalan seperti orang aneh.
Tanpa ekspresi Lara melepas tangannya di pinggang dan dalam hitungan detik celana kebesaran itu melorot ke bawah tanpa hambatan.
“Lara!” tegur Bisma segera memalingkan wajahnya ketika ia melihat paha mulus perempuan dihadapannya .
“Kan mas Bisma nanya, aku kasih jawabannya! Panik amat sih?” ucap Lara sambil menarik kembali celananya.
“Celananya kedodoran ini! Gak ada yang lebih kecil ya?” keluh Lara lagi.
“Itu sudah paling kecil untukku!” jawab Bisma dengan suara sengau.
“Makanya, ayo antarkan aku pulang. Aku gak mungkin pake celana kedodoran begini naik taksi, kalau melorot dan supir taksinya tergoda gimana?”
“Lah, tadi kamu cuek aja tuh melorotin celana di depanku? Kok gak cemas?”
“Kenapa musti cemas?”
“Aku juga laki-laki.”
“Oh. Akh, tenang saja, sama mas Bisma aku gak ada rasa. Mau telanjang sekalipun aku gak akan malu,” jawab Lara ringan tanpa beban sambil berjalan menuju kulkas dan memandangi isinya.
Mendengar ucapan Lara, membuat Bisma terdiam membisu. Entah mengapa ia merasa tertohok dan harga dirinya jatuh berantakan.
Ucapan Lara, membuat kepercayaan dirinya langsung drop, karena dianggap tak menarik.
“Mas, ada es krim aku minta…”
Buk.
Lara menabrak d**a Bisma saat ia membalikan tubuhnya untuk meminta es krim pada sang pemilik rumah.
Ia baru saja hendak mengucapkan sesuatu tetapi urung diucapkan karena Bisma menatapnya dalam tanpa berkedip.
Jantung Lara terasa berdetak lebih cepat ketika Bisma mendekatkan wajahnya, begitu dekat.
“Ucapanmu menyakiti hatiku,” ucap Bisma datar tanpa berkedip.
“Ck, sensitif amat sih! "
Lara berusaha tenang sambil mengalihkan wajahnya karena ia bisa merasakan aroma mint nafas Bisma.
Bisma sempat tertegun sesaat, karena saat ia bicara pada Lara, ia juga bisa mencium aroma sabun mandi miliknya. Merasakan ada aroma yang sama entah mengapa membuat Bisma merasa intim.
Tanpa sadar ia hampir saja mengecup bibir indah milik Lara yang menggemaskan.
Pria itu segera menjauhkan tubuhnya, dan bergerak untuk membuat secangkir kopi.
Sedangkan Lara segera mengatur nafasnya yang hampir habis karena menahan nafas akibat tubuh Bisma yang terlalu dekat dengan tubuhnya.
Di tempat lain, Ajeng tengah mencoba mencari Lara yang tiba-tiba menghilang dari tempat acara.
“Kemana lagi sih anak itu?” gerutu Ajeng kesal karena tak bisa menemukan cucunya, padahal saat ini ia tengah ingin mengenalkan Lara dengan beberapa pria yang juga teman-teman Rico.
Melihat sekumpulan anak muda yang tampan dan tampak mapan membuat Ajeng bersemangat untuk mengenalkan cucu perempuan kandungnya itu.
Tak hanya Ajeng yang menggerutu, tetapi juga Laila yang merasa kehilangan Bisma, padahal tadi ia melihat anaknya sebelum acara dimulai. Kini sampai acara inti selesai, ia tak menemukan putra bungsunya itu.
“Kemana sih Bisma?” tanya Laila, pada keponakannya yang lain.
“Tadi sih kayanya sama Lara, tapi gak tahu mereka pergi kemana,” ucap Randy adik Rico yang juga sepupu Lara dan Bisma dan sempat melihat Bisma mencari Lara lalu sejak saat itu keduanya tak terlihat lagi.
Mendengar ucapan Randy, Fitri yang tak jauh dari situ tampak terdiam, raut wajahnya berubah. Tak hanya Laila yang mencari Bisma, dirinya juga.
Sejak datang, ia belum sempat menyapa dan berbicara dengan atasannya itu. Mendengar Bisma menghilang bersama Lara, membuatnya gelisah.
Ia tak menyadari bahwa Reno memperhatikan perubahan raut wajahnya.
Pria itu menyadari setiap ada nama Bisma disebut, ada reaksi yang berbeda dari Fitri dan reaksi itu membuat hatinya sedikit cemburu juga curiga.
Bersambung.