Bab 76

1000 Words

BAB 76: Harapan yang Tertahan di Balik Fajar Setahun telah berlalu sejak badai di bunker itu reda. Pesantren Hidayatullah telah kembali ke ritme hidupnya yang tenang; suara santri mengaji, bau kayu jati yang terbakar di dapur umum, dan aroma melati yang kini tak lagi terasa mencekam. Namun, di dalam kamar pengantin yang kini telah sepenuhnya menjadi milik Ghara dan Fathimah, ada sebuah perjuangan lain yang sedang berlangsung—perjuangan yang lebih menguras batin daripada menghadapi moncong senjata. Pagi itu, udara sangat dingin. Ghara terbangun lebih awal, ia merasakan tempat di sampingnya kosong. Ia menoleh dan mendapati pintu kamar mandi sedikit terbuka, menampakkan seberkas cahaya lampu yang pucat. Ghara menghela napas panjang. Ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana. Ini adalah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD