Julian 13

860 Words

Briana duduk di sofa sambil menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Jevian. Nafasnya naik turun, d**a terasa sesak menahan amarah yang mendidih. Jeremy berdiri tak jauh dari sana, memijat pelipisnya sendiri karena situasi rumah pagi itu begitu panas. “Aku tidak percaya… dia berani sekali bicara begitu pada Mama-nya sendiri…” gumam Briana sambil menggenggam kedua tangannya erat-erat. “Briana, tolong… jangan terus keruhkan keadaan,” ujar Jeremy pelan. “Kamu sudah terlalu jauh.” Briana menatap suaminya itu dengan mata yang berkaca-kaca penuh kemarahan. “Terlalu jauh? Tidak, Jeremy. Aku belum mulai apa-apa. Itu anak baru saja menampar wajahku dengan cara yang paling menyakitkan.” “Dia tidak menamparmu, dia hanya memilih apa yang dia mau,” jawab Jeremy. “Dan dia memilih perempuan miskin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD