Clara yang menyelesaikan pekerjaannya di kafe menatap pada Jevian yang masih setia menunggunya. Ia berjalan menuju lelaki itu, dan tanpa berkata apa pun, Jevian langsung menariknya ke dalam pelukan hangat. Clara membalas pelukan itu dengan senyum kecil yang ia sembunyikan di bahu Jevian. “Ayo pulang,” ucap Jevian pelan. Clara mengangguk. “Kamu nggak capek nunggu aku? Sudah lama, kan?” “Aku nggak pernah capek nunggu kamu,” jawab Jevian sambil memegang tangan Clara dan mengajaknya ke motor hitamnya. Clara tertawa kecil. “Gombal.” Jevian menoleh. “Aku serius. Kamu harusnya sudah tahu itu.” Mereka berangkat menuju kontrakan kecil Clara yang berada di dalam gang sempit. Lampu-lampu jalanan sudah banyak yang padam, hanya menyisakan cahaya dari beberapa teras rumah dan kios rokok yang masih

