Suara raungan Mesya yang diseret oleh pengawal perlahan menghilang, meninggalkan ruang keluarga dalam keheningan yang mencekam. Hanya tinggal Arsenio dan Mikayla. Arsenio masih gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang membekas dan rasa jijik yang dalam. Ia memeluk Mikayla, membenamkan wajahnya di rambut istrinya. “Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu,” bisik Arsenio, suaranya parau penuh penyesalan. “Aku tidak pernah menyangka dia bisa sekeji itu. Aku… aku bodoh.” Mikayla membalas pelukan suaminya. Aroma tubuh Arsenio menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan bayangan wajah jahat Mesya dan Eliza dari benaknya. “Aku tidak apa-apa, Arsen. Yang penting, kamu sekarang tahu yang sebenarnya. Dan anak kita aman,” jawab Mikayla le

