Arsenio tiba di rumahnya pada sore hari dengan langkah yang mantap dan tegar. Pertemuan dengan Eliza di kafe tadi siang telah menguras emosinya, namun ia merasa lega karena semua sudah diucapkan dan batasan telah ditegaskan. Ia menemukan Mikayla sedang duduk di sofa ruang keluarga, membaca buku, ditemani secangkir teh herbal. Mikayla segera meletakkan buku dan berdiri menyambut suaminya. “Hubby, kau sudah pulang. Bagaimana pertemuannya?” tanya Mikayla, raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam, meskipun ia berusaha tersenyum. Arsenio memeluk istrinya erat-erat, menghirup aroma rambut Mikayla yang menenangkan. Pelukan itu bukan lagi pelukan yang penuh penyesalan, melainkan pelukan yang penuh kepastian. “Aku baik-baik saja, Sayang. Aku bertemu Eliza. Aku sudah mengatakan segalany

