Keheningan yang mengikuti puncak kenikmatan mereka terasa tebal dan damai, jauh berbeda dari hiruk pikuk emosi yang berkecamuk di lorong. Arsenio memeluk Mikayla erat, napasnya yang berat dan hangat menyapu rambut istrinya. Arsenio merasa benar-benar tenang, terlepas dari jeritan Mesya yang sempat ia dengar. Gairah Mikayla telah menghapus semua pikiran lain dari benaknya. Setelah beberapa menit, Arsenio menyadari bahwa ia tidak boleh mengabaikan Mesya sepenuhnya. Ia ingat suara jeritan itu. Arsenio mengangkat kepalanya, mencium lembut bibir Mikayla. “Aku harus memeriksanya, Sayang. Dia berteriak kesakitan tadi.” Mikayla mengangguk, menyembunyikan senyum puasnya. “Pergilah, Hubby. Pastikan dia baik-baik saja. Aku akan membersihkan diri di kamar mandi.” Arsenio bangkit, mengenakan kembal

