Bab 28. Dua Jiwa Rapuh

1164 Words

Gavin tidak bergerak. Suara getaran ponsel di lantai itu bagaikan detak bom waktu, namun fokusnya tidak beralih dari netra Gwiyomi yang basah. Ia melepaskan ponselnya, membiarkannya terus bergetar hingga layar itu mati dengan sendirinya, meninggalkan mereka kembali dalam remang cahaya lampu kota yang masuk melalui celah jendela. "Aku tidak akan pergi," bisik Gavin serak. Gwiyomi tersentak, tawa getirnya terhenti digantikan oleh tatapan tidak percaya. "Vanka sedang kesakitan, Gavin. Anakmu... ahli waris Mahendra sedang dalam bahaya. Kamu gila?" "Mungkin aku memang sudah gila sejak tiga tahun lalu saat membiarkanmu pergi," sahut Gavin dengan nada yang jauh lebih tenang namun dalam. Ia meraih tangan Gwiyomi, kali ini tidak dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan yang memohon. "Malam in

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD