“Hansika sudah berusia hampir kepala tiga, Hamish... Dinginkan kepalamu dulu!" Hamish tertawa hambar, kemudian tatapannya serius. Tangannya mengepal perih, tadi ia memukul Satya yang tentu saja membuat luka tangan sendiri. Sementara Satya hanya tetap pasrah, menerima bahkan seolah tak apa bila Hamish akan menghabisinya. Segala kepercayaannya, rasa bangga pada pria itu sirna dengan pengakuannya tadi. “Justru karena Hansika sudah sedewasa itu, harusnya berpikir dulu sebelum mengencani pengawal pribadi kepercayaanku!” “Hamish—“ Ia potong dan menatap sengit Halim, tidak semudah itu langsung bersikap seolah bukan masalah besar. Ini menyangkut kepercayaan, dan putrinya, “sebagai seorang Ayah, bahkan kamu pernah mengalaminya, harusnya kamu lebih paham rasanya dikhianati seperti yang kuras

