Sekitar jam tiga pagi, pintu kamarnya diketuk. Hansika bangun dengan heran dan mendapati seluruh keluarga berkumpul kecuali Papi-Mami yang sudah tidak terlihat. “Papi-Mamimu ke rumah sakit, Izz menelepon kondisi ayah mertuanya.” Beritahu Eyang dengan raut cemas. Semua kembali terjaga, firasat tidak nyaman. Hansika tetap berkabar melalui Mami, tadinya ia mau menyusul. Hingga pagi datang dan rencana kepulangan ke Jakarta yang semula sudah di depan mata, seketika luruh oleh kabar duka yang menyayat hati. Pakde Aziz, ayah mertua Izz yang baru saja menyaksikan akad nikah putrinya telah mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang sudah menuntaskan yang paling dikhawatirkan seorang Ayah. Suasana rumah Eyang juga ikut terasa mendadak berubah menjadi kesunyian yang mencekam, sebelum akhirn

