“Hansika,” panggilan suara lembut Mami menarik kesadaran Hansika. Ia menatap kedua orang tuanya yang duduk di masing-masing sisinya. Sama-sama memberi ekspresi menunggu akan yang dikatakan putrinya, “kamu mencari kami, ada yang mau dibicarakan?” Masih terdiam kaku, kemudian ia menyadari jika ternyata hanya dalam bayangan saja semudah itu menyampaikan perihal mundur dari rencana pernikahannya dengan Nando. Kalimat yang sudah tersusun rapi dikepalanya mendadak tertahan karena lidah kelu. Hansika sudah hampir membuka mulutnya, tetapi kemudian Hamish bicara, “kamu butuh sesuatu?” Hansika mengeratkan tangan, kemudian bibirnya tersenyum “tiba-tiba aku ingin menemui dan bersama kalian.” kalimat itulah yang ia pilih. Hamish melirik istrinya, senyum papinya sangat lebar dengan mata menyipit

