Suasana di ruang makan kediaman Leif yang biasanya sunyi dan penuh sekat formalitas, pagi itu mendadak terasa gerah terkhusus untuk Vihan. Bermula dari sang putra kesayangan, Luca baru saja selesai menghabiskan sereal cokelatnya dengan riang, sembari berceloteh panjang lebar tentang betapa kerennya paman yang baru dia ketahui, yakni Uncle Satya yang ia temui di rumah sakit beberapa waktu lalu. Setelah Vihan sangat sibuk, kesempatan bisa duduk sarapan bersama putranya malah menghadirkan satu keadaan tidak nyaman. Bocah itu bahkan menirukan gaya Satya yang tegap, “Uncle sama Papa memang mirip banget!” Bagaimana aku menghentikan Luca? Vihan pasti akan sangat marah padaku. Batin Svala. Svala melirik mantan suaminya, duduk cukup tegang. Ia tahu kalau Vihan menahan diri untuk mencecarnya atau

