“Hansika,” panggil Lea pada sang putri yang menuntut penjelasan mengenai keraguan yang mulai terlihat secara nyata. Hansika menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan saat tersenyum kecil, “sudah biasa jika keraguan muncul menjelang pernikahan. Jangan dipikirkan apa yang aku katakan.” Bukan hanya Lea yang langsung mengernyitkan kening mendengar kelanjutan ucapan Hansika, pun Satya. Dia duga jika Hansika akan melanjutkan keraguan yang sudah dia ungkapkan pada sang Mami. Lea mendekat, berhenti di hadapan sang putri lalu meraih tangannya lembut. “Mami—“ “Bukan keraguan yang sewajarnya kerap muncul saat menjelang pernikahan, melainkan lebih kekhawatiran menuju langkah-langkah bersama ke depan dengan pasangan kita. Menyiapkan perjalanan bersama setelah pernikahannya. Bila ya

