“Akhirnya kamu menjawab teleponku, Sat! Paman Farhan juga coba telepon kamu! Kami khawatir sekali.” Satya memang akhirnya memegang ponselnya yang sebelumnya tertinggal di mobilnya, mobil yang diantarkan oleh sopir dari Pak Halim. Ia melihat puluhan notifikasi, dari Hansika pagi tadi dan paling banyak lainnya dari Pasha dan pamannya juga. “Aku pergi ke rumah Hansika. Menemuinya, orang tua dan keluarganya untuk segera mengakui. Keputusan yang kuambil hari ini juga setelah berita sialan itu naik.” Akuinya. Pasha menghela napas dalam, lega “pilihan yang tepat, Satya... Tidak ada dan apalagi ada keadaan ini memang harus segera kamu akui sendiri sebelum semakin liar asumsi di luar.” Jeda sesaat, mereka ambil untuk hadapi situasi yang sama-sama berat tapi lebih berat Satya. “Semuanya baik

