Garis Tangan

2329 Words

Rumah Eyang Kaflin-Amira, Semarang... “Hansika sudah ada mengabari lagi?” tanya Eyang Kaflin pada putranya, mereka baru tiba kemarin sore. Hanya cucu perempuan sulungnya, Hansika yang tidak bisa ikut karena masih dengan kegiatannya. Minggu keduanya. “Dua hari lalu, menelepon. Hansika sehat, Ayah. Titip salam juga. Nanti gantian dia yang akan berkunjung ke sini.” “Pasti repot, persiapan pernikahannya. Sudah sejauh apa?” Lea yang juga duduk di sana, ikut menjawab sang mertua “baru bertemu sekali dengan WO. Pulang dari kegiatannya, baru nanti fokus ke sini.” Kaflin menoleh pada sang istri yang memberikan butir-butir obat yang perlu dikonsumsi saat pagi hari. Ia jeda, tersenyum dan penuh cinta menatap belahan jiwanya “terima kasih, sayang.” Amira tersenyum, Lea juga mengambilkan mi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD