114

1344 Words

Haris menatap putranya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Matanya tajam, penuh kekecewaan, dan rahangnya mengatup erat seolah sedang menahan amarah yang hampir meledak. "Apa alasan kamu membantunya?" tanyanya dengan suara rendah namun dingin, menusuk seperti belati yang dihujamkan langsung ke d**a Ebas. Ebas mengalihkan pandangannya, menatap lantai rumah sakit yang terasa semakin sempit dan menyesakkan. "Aku kasihan dengannya, Pa. Hanya kemanusiaan saja." Haris terkekeh pelan, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. Tatapannya tetap sama—tajam dan menghakimi. "Kasihan?" ia mengulang kata itu seakan mengejek. "Apa kamu lupa, Bas, kamu menolong istrimu karena apa?" Dada Ebas terasa sesak. Tidak, tentu saja ia tidak lupa. Ia bertemu Nala dalam keadaan yang hampir sama seperti Almir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD