8 | Fakta yang Terungkap

1821 Words
Rafly kembali meneguk minumannya yang entah sudah keberapa. Pikirannya saat ini benar-benar kacau setelah apa yang terjadi malam itu. Semua benar-benar diluar kendalinya. Ia bahkan sama sekali tidak mengerti mengapa langkahnya harus berakhir di apartemen Raline padahal ia bisa mengunjungi tempat lain, bukan? Mengapa harus Raline? Pertanyaan itu terus berputar di dalam benaknya. Namun di sisi lain, Rafly juga tidak ingin munafik jika Raline—wanita itu sangat menggoda dan memengaruhi pikirannya. Bukan hanya pikiran, namun Rafly juga menjadi sulit untuk berkonsentrasi selama bekerja apalagi setelah malam itu, ia belum punya waktu untuk mengobrol dengan Raline selain perihal pekerjaan. Wanita itu seolah menghindar? Entahlah. “Gue gak pernah berpikir bakal sampai di titik ini,” ujar Rafly, menatap nyalang pada langit-langit ruangan. Saat ini Rafly dan Yesa berada di salah satu bar terkenal di Jakarta. “Saat Raline kembali muncul harusnya lo udah bisa prediksi kan apa aja yang bakal terjadi?” tuding Yesa kembali meneguk minumannya. Ya, dia adalah Yesa Mahardika. Lelaki berusia 29 tahun yang merupakan sahabat Rafly sejak kuliah. Memiliki wajah yang tegas, paras tampan dan juga mapan, namun belum menemukan tambatan hidup yang sesuai dengan kriterianya. Setiap kali ada yang bertanya bagaimana tipe wanita yang diidamkan oleh Yesa, jawabannya: ‘Yang kayak Ibu. Tanya langsung ibu aja ibu kayak apa orangnya.’ Terdengar menyebalkan, bukan? Tapi itulah Yessa. Menjadi satu-satunya orang yang tahu kabar kembalinya Raline membuat Yessa terpaksa harus ikut berbohong pada Nessa kala itu yang mengatakan jika Rafly malam itu menginap di rumahnya padahal tidak sama sekali. Namun ia tak pernah menyangka jika Rafly—sahabatnya itu melewatkan malam bersama Raline. Rafly mengangguk, membenarkan. “Harusnya. Tapi man, bahkan gue yang memulai segalanya. Gue yang nyium dia waktu di Villa, gue yang datang ke apartemennya waktu berantem sama Nessa, gue juga yang pada akhirnya ...” Ia kehilangan kata-kata, melayangkan tangannya ke udara dan kembali bicara. “Terjadi gitu aja.” “Lo menyesalinya?” selidik Yesa. Ia menatap Rafly serius, menunggu respond lelaki itu. “Gue merasa bersalah sama Nessa.” Sesuai dugaan! tapi tetap saja membuat Yessa tak habis pikir. “Wah lo bener-bener b******k sih, Raf.” “Yes, I am!” Rafly mengakui. Tatapannya kini beralih pada Yesa. “Lo tau gue gak pernah bener-bener bisa lupain Raline selama ini. Bahkan jantung gue masih berdebar gak karuan waktu pertama kali ngeliat dia. Perasaan itu makin hidup tiap kali ada moment bareng dia. Gue udah berusaha keras buat menghindar, tapi gak bisa, Yes...” Ia menghela napasnya berat. Lalu kembali bersuara, “Gue bahkan gak pernah ngerasain perasaan sedahsyat ini selama bersama Nessa,” akunya. “Gue udah berusaha jadi suami dan ayah yang baik. Berusaha mencintai dia sebisa gue, tapi tetep aja ... Nessa bukan Raline, Yes.” *** Hari ini, Raline sengaja mengunjungi toko bunga Ness’ florist setelah pulang kantor. Dari luar, toko itu terlihat sangat menarik dan aetethic dengan rangkaian bunga yang tertata di atas jendela dan pintu masuk, serta buket bunga ukuran kecil yang diletakkan dalam sebuah pot pot yang tersusun rapi bertingkat juga bunga bunga segar lain dengan jenis yang beragam disimpan dalam pot pot berukuran besar di sisi lain. Menciptakan kesan segar yang membuat siapapun ingin mampir dan mengunjungi toko bunga tersebut.  Ketika memasuki ruangan, mata Raline dimanjakan dengan berbagai macam jenis bunga yang tersusun rapi pada etalase kaca yang bertingkat. Sepertinya, hampir semua jenis bunga ada di sini dengan warna yang juga sangat bervariasi.  Di sisi lain etalase, terdapat bouquet bunga yang berjejer cantik, siap untuk dibawa pulang. Ada juga bunga yang ditaruh pada pot-pot serta paper bag yang lumayan mencuri perhatian Raline. Suasana di dalam toko bunga tersebut sangat nyaman dan juga segar. Pemilihan warna cat yang dominan putih dengan interior kaca menciptakan kesan yang elegan namun tetap manis.  Dalam hati, Raline memuji kepintaran Nessa dalam mendesign toko bunga tersebut. Saat sedang melihat-lihat, Raline sedikit dikagetkan dengan suara seseorang yang menyapanya. Ia kemudian berbalik dan mendapati Nessa berdiri tepat di hadapannya. Wajah wanita yang sebelumnya cerah itu, tiba-tiba saja berubah menjadi kaget. Senyumnya pun ikut lenyap seketika. “Oh hai, long time no see, Nes,” ujar Raline dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia kembali bersuara, “Apa kabar?” “Baik.” Nessa menjawab singkat. Kedatangan Raline tentu saja membuat suasana hatinya berubah dalam waktu cepat. Disamping kekagetannya, pikirannya turut riuh dengan asumsi-asumsi yang penuh dengan rasa kekhawatiran dan ketakutan. “Aku lagi cari bunga Lily putih, mawar merah maroon, sama gladiol. Ada?” tanya Raline ramah. Secara tidak langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke toko Nessa. “Ada.” Nessa kemudian memanggil salah satu pegawainya. “Na, tolong siapin bunga Lily putih, mawar merah maroon, sama gladiol, ya.” “Dijadikan satu dalam bouquet, ya,” tambah Raline yang langsung diangguki oleh Nana, pegawai Ness’ Florist. “Mohon ditunggu, Mbak,” katanya kemudian berlalu untuk menyiapkan bunga pesanan Raline. Keduanya masih berdiri di posisi yang sama. Sepersekian detik, mereka sama sama diam dengan pikirannya masing-masing. Hal itu membuat Nessa semakin tidak nyaman. Isi kepalanya saling beradu sekarang. Kedatangan Raline menurutnya bukan hanya sekedar ingin membeli bunga, tapi ada maksud lain dibaliknya. “Mbak?” panggil Nessa kemudian. “Bisa kita bicara di dalam?” Raline ingin bertanya, namun segera diurungkannya. “Tentu.” Nessa kemudian berbalik, berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Raline di belakangnya. “Silahkan duduk, Mbak.” Nessa mempersilakannya duduk. Raline hanya mengikuti dan duduk di sofa, sementara gadis muda itu menelpon kasirnya untuk membuatkan Raline minum. Setelahnya, Nessa bergabung dengan Raline dan duduk tepat di hadapannya. “Mbak aku mau to the point aja. Maksud dan kedatangan Mbak kesini apa, ya? Banyak loh toko bunga disini, tapi kenapa harus Ness’ Florist?” Nada bicaranya terdengar tidak suka. Raline menngerutkan alisnya. “Maksud kamu?” “Mbak? Aku dan Mas Rafly udah ngalah loh, kita yang pergi menjauh. Terus setelah setahun berlalu, kenapa tiba-tiba Mbak muncul di hadapan aku? Mbak sengaja kan cari tahu tempat tinggal kami? Mbak mau balas dendam kan sama aku dan Mas Rafly?” tuduh Nessa dengan terang-terangan. Alih-alih marah dengan tuduhan Nessa, Raline malah tertawa. “Ness? Pikiran kamu tuh kejauhan tahu, gak?! Aku ada disini itu karena kerjaan. Dan aku tahu Ness’ Florist juga dari temen kantor yang rekomendasiin. Mana aku tahu kalau ownernya kamu. Mana aku tahu juga kalau Rafly tinggal di daerah sini.” “Bohong!” tuding Nessa masih tidak percaya. Ia hendak bersuara, namun seseorang lebih dulu mengetuk pintu. Membuatnya urung. “Masuk.” Lalu seseorang masuk membawakan dua cangkir teh dan meletakkannya di atas meja. “Tehnya, bu,” katanya sebelum kemudian undur diri dari ruangan tersebut. Pintu kembali tertutup membuat pandangan Nessa kembali menatap Raline. Ia melanjutkan ucapannya yang tadi sempat tertunda. “Mbak aku tahu apa yang aku lakukan dengan Mas Rafly—mengkhianati kamu dulu itu adalah suatu kesalahan. Tapi, bukankah itu sudah berlalu? Apa kamu belum bisa memaafkan kami?” “Aku sudah memaafkan kalian, bahkan jauh sebelum kalian meminta maaf.” Raline masih mencoba menanggapinya dengan tenang. “Lantas?” “Apa? Aku sudah menjelaskannya di awal. Apalagi yang kamu harapkan?” Nessa menggeleng. Ia masih belum terima. “Mbak udah ketemu Mas Rafly?” Sepersekian detik Raline diam. Benar, tidak mungkin Rafly mengatakan yang sebenarnya kepada Nessa. Oh, ternyata begitu. Baiklah ... “Belum. Dan lagipula, untuk apa aku bertemu Rafly, Ness? Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan atau harus kembali bertemu dengan Rafly.” Dalam hati, Nessa merasa lega. Tapi ia tetap tidak boleh lengah. “Bohong!” Raline mulai muak dengan wanita di hadapannya. Ia kemudian bangkit dari posisinya. “Ness, apapun yang kamu pikirkan itu terserah padamu. Kamu percaya padaku atau tidak, aku juga enggak peduli. Aku gak punya waktu untuk mendengar kecurigaanmu yang tanpa beralasan itu.” Ia hendak melangkah pergi. Namun, Nessa mencegahnya. Ia ikut berdiri. “Tunggu dulu, Mbak.” “Oke, anggaplah aku percaya sama kamu. Tapi Mbak, aku tetep mau bilang sama kamu,” ucapnya kemudian. “Apapun alasan kamu sebenarnya, sekalipun itu ingin merebut Mas Rafly dari aku, aku pastikan enggak akan pernah terjadi, Mbak.” Nessa sedikit menjeda ucapannya, sebelum kembali melanjutkan. “Mbak tahu apa yang membuat mas Rafly mencari aku setelah kejadian di hotel kala itu? Mbak tahu alasan Mas Rafly pada akhirnya menjalin hubungan gelap sama aku? Karena Mas Rafly bilang kalau Mbak Raline membosankan. Terlalu berpikiran idealis dan menganggap hal yang tabu itu harus ditaati.” “Mas Rafly bilang aku memberikan warna baru di hidupnya dan itu lebih berarti dari apapun. Aku bisa memberikan apa yang selama ini nggak pernah Mbak Raline berikan. Berkali-kali aku meminta berhenti tapi Mas Rafly gak mau. Dia bahkan sampai memohon-mohon supaya aku nggak meninggalkannya kala itu.” Nessa menghela napasnya dalam. Ia kembali berucap. “Mbak, kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa pada akhirnya aku yang memenangkan hati Mas Rafly. Kamu harus bisa berdamai dengan keadaan bahwa cintanya Mas Rafly sudah habis terhadap kamu sejak dia bersama aku. Kami saling mencintai dan sudah hidup bahagia. Tolong, jangan usik kebahagiaan kami,” tuturnya kemudian. Tanpa sedikit pun merasa malu atau bersalah atas kejadian di masa lalu. Raline mengurungkan niatnya dan berbalik, menatap lekat wanita muda di hadapannya. Ia sebenarbya tidak ingin membuang waktu lebih lama namun ucapan Nessa terdengar menarik di telinganya. Dengan nada yang tenang, ia menanggapi. “Well, kalau Rafly adalah pria yang mudah bosan dengan satu wanita, bukankah hal yang sama bisa terjadi juga sama hubungan kalian?” Raline berasumsi. “Ah, bagaimana kalau suatu hari nanti Rafly bertemu dengan wanita yang lebih segalanya darimu? Dan yang terpenting lebih lihai dalam memuaskannya di ranjang. Tidak menutup kemungkinan kamu juga akan ditinggalkan, bukan? Oh, ya Tuhan...” Ia menutup mulut dengan jari tangannya, pura-pura terkejut. “Tapi enggak. Aku harap itu enggak akan terjadi. Banyak-banyaklah berdoa, Ness. Mungkin aja Tuhan masih berbaik hati mengabulkan doamu. Karena biar bagaimanapun menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah memiliki kekasih sampai merebutnya, bukan sesuatu yang benar,” tuturnya masih dengan nada suara yang tenang. Bahkan Raline masih sempat-sempatnya tersenyum sebelum kemudian kembali berbalik dan melangkah ke arah pintu. Namun, baru saja ia menyentuh handle pintu tersebut, Nessa kembali bersuara. Membuat Raline lagi lagi harus mengurungkan niatnya. “Tentu saja enggak. Kita berbeda! Sangat berbeda, Mbak! Jangan pernah kamu samakan kisah cintamu yang nggak seberuntung aku! Mas Rafly sangat mencintai aku! Dia tidak akan pernah meninggalkan ataupun mencampakkan aku! Aku jamin itu! Akan kupastikan kamu melihatnya dengan kedua mata kamu!” ucapnya menantang. Andai saja Raline bisa melihat wajah penuh emosi Nessa. Namun, Raline sama sekali tidak peduli. Ia menarik handle pintu dan keluar dari ruangan tersebut. Berjalan ke arah kasir untuk membayar pesanannya. Lalu ia segera melangkahkan kakinya keluar menuju mobil dan masuk ke dalamnya. “Membosankan katanya? Idealis?” Raline terkekeh di dalam mobil. Ia tidak peduli perkataan wanita itu benar atau tidak, namun yang jelas sesuatu yang membosankan tidak akan menarik seseorang untuk kembali, bukan? Oh, malang sekali nasibnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD