Raline dan Rafly sampai di hotel sekitar pukul 09.30 pagi. Setelah mendapatkan kunci akses dari resepsionis, keduanya pun berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai tiga.
Meski kamar tersebut tipe connecting room, keduanya tetap mendapatkan kunci masing-masing.
"Kita punya waktu 20 menit buat siap-siap. Kata Pak Dimas tempatnya gak jauh dari hotel. Sekitar 10 menitan sampe," jelas Rafly memberikan kunci kamar kepada Raline.
"Kenapa enggak masuk barengan aja sih, Raf?" protes Raline. Namun, ia tetap menerima kunci itu.
Raline sudah mengetahui mengenai Pak Dimas yang salah memesan kamar. Entah harus senang atau tidak, yang jelas Raline suka ketika semesta berpihak padanya.
"Nanti malam, sayang. Be patient, okay?"
"Okay!" Ia kemudian membuka kamar tersebut dan masuk ke dalamnya untuk segera bersiap-siap mengikuti pelatihan yang diadakan tak jauh dari kantor tempat keduanya menginap.
Perkataan Pak Dimas benar, pelatihan itu selesai sekitar pukul lima sore. Semua orang yang mengikuti pelatihan mulai keluar secara teratur dari ruangan termasuk Raline dan Rafly.
Sebelum kembali ke hotel, keduanya memilih untuk mencari tempat makan terdekat sekalian meeting online. Sehingga sekitar pukul setengah 7 malam keduanya baru kembali ke hotel.
Saat sampai di kamar, Raline langsung mengambil peralatan mandinya. Badannya terasa lengket heharian berada di luar. Ia butuh sesuatu yang menyegarkan dan mandi adalah pilihan paling tepat.
Sekitar 30 menit Raline keluar dari kamar mandi sudah mengenakan gaun tidurnya. Tak lama, pintu yang menghubungkan antara kamarnya dan kamar Rafly terbuka, memunculkan seseorang yang berjalan ke arahnya. Lelaki itu tampak segar setelah mandi.
"Tadi Nessa video call, untung aku masih di kamar. Jadi dia percaya kalau aku pergi pelatihan sendiri," jelasnya tanpa diminta.
Lelaki itu meraih pinggang Raline, mengecup bahu Raline beberapa kali sebelum akhirnya naik ke bibir.
"Ngapain pake baju, sih? Kan nanti juga di lepas."
Raline memukul bahu Rafly. "Kamu, nih! Harus banget bilang gitu?"
"Line kamu nyadar gak sih klo kamu tuh menggoda banget hmmm?" Ia semakin merapatkan tubuh Raline, membuat jarak diantara keduanya semakin dekat.
"Of course!" Raline mengalungkan kedua tangannya di leher Rafly. "Buktinya kamu tergoda," katanya sambil tersenyum puas.
Bagaimana Rafly tidak tergoda? Raline bukan hanya memiliki paras yang cantik namun juga tubuh yang ideal dengan lekukan yang pas di beberapa bagian. Apalagi jika wanita itu sudah memakai gaun tidur seperti sekarang.
Bahkan gaun tidur yang dipakai Raline saat ini lebih terbuka dari yang sebelumnya pernah Rafly lihat. Gaun itu memiliki warna yang sama-merah sesuai warna kesukaan Raline namun dengan model yang berbeda. Potongan dadanya lebih rendah membuat Rafly bisa melihat hampir keseluruhan d**a Raline yang bulat sempurna; begitu penuh apalagi ia tak memakai bra. Selain itu, kainnya pun lebih tipis sehingga Rafly dengan mudah melihat apa yang ada di baliknya.
Raline mendekatkan wajahnya, mencium bibir lelaki itu dan melumatnya pelan. Jika biasanya Rafly yang memulai, maka kali ini gilirannya.
Sial! Baru begini saja tubuhku sudah memanas!
Rafly tak ingin tinggal diam dan menikmati. Ia balas melumat bibir Raline yang selalu manis dan memabukkan. Tak lupa tangannya bergrilya pada d**a bulat wanita itu, meremasnya keras, membuat Raline melengkuh panjang.
Namun, Raline tak mau kalah. Kali ini ia ingin memegang kendali. Perlahan, ia memapah Rafly ke tempat tidur. Raline melepaskan pangutannya dan mendorong lelaki itu sampai terjatuh di atasnya.
Rafly paham dengan keinginan wanita itu. Ia kemudian menarik tubuhnya hingga kepalanya bertemu dengan bantal. Raline ikut bergabung ke atas tempat tidur setelah sebelumnya melepaskan CD-nya dan juga seluruh celana yang dikenakan oleh Rafly dan membuangnya sembarangan.
Raline melepaskan gaun tidurnya, membuatnya kini terlihat polos sempurna tanpa terhalang oleh sehelai benang pun.
Rafly menggertakkan giginya. Sial! Gairahnya semakin memuncak melihat pemandangan di hadapannya saat ini.
Wanita itu mendekat lalu duduk tepat di pinggang Rafly. Membuat sesuatu yang sedari tadi menegang semakin terasa keras. Raline mulai menggerakan tubuhnya pelan, namun membuat Rafly semakin tak karuan.
Rafly balas meremas kedua d**a Raline dengan tangannya. Tidak tanggung-tanggung, ia meremasnya dengan keras membuat Raline kembali melengkuh panjang. Ia juga memainkan p*ting Raline yang sudah mengeras sejak tadi, menyebabkan wanita itu menggeliat nikmat.
Rafly selalu suka saat melihat ekpresi Raline. Wanita itu terlihat 2x lebih seksi dari biasanya. Sangat berbeda dengan Nessa yang ekspresinya selalu di tahan. Tidak selepas Raline.
"Ah... Raf ...." Raline tidak ingin mengalah. Ia semakin menggerakkan tubuh bawahnya, menciptakan desahan penuh gairah dari bibir Rafly.
"Biar aku yang memimpin kali ini," ujarnya dengan senyum seringai. Dan Raline benar-benar melakukannya. Ia memimpin permainan babak itu dengan penuh gairah dan panas yang membakar keduanya.
Malam itu, keduanya kembali terhanyut dalam permainan cinta yang memabukkan. Sibuk mencapai puncak yang seolah tak ada habisnya. Rafly begitu mendamba, memuja, bagaimana Raline yang begitu liar kini menjadi candunya.
Tanpa mereka sadari apa yang baru saja mereka lewatkan.
***
Obrolan makan siang kali ini terasa begitu heboh bersamaan dengan berkumpulnya kembali Gama ke kubikel setelah cuti menikah. Tentu saja tidak jauh-jauh dari pertanyaan seputar menjadi pengantin baru. Seperti: Gimana first impression lo pas bangun tidur ada seseorang di sisi lo? Enak kan, Gam punya bini? Apa-apa di siapin. atau gimana selama honeymoon? Puas dong pasti? Dan pertanyaan-pertanyaan menggoda Gama lainnya. Sampai di titik obrolan itu menyasar pada Raline.
“Tinggal satu nih yang belum sold out. Jangan buru-buru deh, Ra, cari yang yakin dulu, ya,” ujar Karesha.
“Yang mapan juga penting Ra, di zaman sekarang,” Gama menambahi.
“Setuju. Lo kalau mau nyari pasangan jangan yang cuman modal ganteng doang, Ra. Tapi liat juga kemapanan dan keluarganya. Jangan kayak si Gama nih, ribet!” ujar Karesha yang lagi-lagi menyinggung permasalahan Gama tempo hari.
Semua tertawa tanpa terkecuali. “Ya anggap aja cobaan pra-nikah. Yang penting sekarang kan udah terlewati, Mbak... Iya gak, Raf?” kata Gama dengan penuh percaya diri.
“Exactly!”
“Tuh, Rafly aja setuju.”
“Eh tapi bukannya lo udah ada cowok ya, Ra? Kemaren gue nggak sengaja ketemu di basement apartemen lo pas abis dari apartemen temen. Mau gue sapa, tapi lo buru-buru masuk mobil,” tutur Agma yang tiba-tiba saja membuat Raline sedikit panik.
Ia melirik sekilas ke arah Rafly yang mimik wajahnya juga terlihat resah.
“Wah ... Anak sini juga, Ra?” Karesha terlihat sangat antusias.
“Eh? Enggak. Bukan ... Lagian itu kita cuman deket aja sih. Belum tau kedepannya kayak gimana,” jawab Raline berusaha setenang mungkin. Meski sebenernya jantungnya kini sudah dag dig dug luar biasa.
“Loh ya enggak papa, Ra. Semuanya juga berawal dari deket dulu. Tapi dia orangnya gimana? Baik, kan? Bukan suami orang?” tanya Karesha, seketika membuat Rafly yang sedang minum es lemon tea tersedak.
“Biji lemonnya ketelen,” ujar Rafly saat semua pandangan beralih kepadanya.
Raline yang kebetulan duduk disamping Rafly, refleks menepuk-nepuk punggung atas lelaki itu. “Gak papa tapi, Raf?”
“Gak. Gak papa kok, Ra. I'm fine.”
“Si Rafly mah jangankan biji lemon yang cuman seuprit, Ra ... biji duku aja nih dia pernah keselek,” tutur Agma yang membuat seisi meja tertawa.
“Anjir, iyaaaa! Gue masih inget banget sama kejadian itu. Mana 10 menit lagi mau meeting sama Pak Dimas,” tambah Gama disela sela tawanya.
“Untung bisa keluar lagi. Kalau enggak, udah gak tahu lagi gue gimana nasibnya sekarang...” Karesa ikut bersuara.
Rafly terkekeh. “Emang ya yang namanya temen tuh yang diinget kejadian memalukannya doanggggg!” membuat semuanya tertawa lebih keras, termasuk Raline.
“Eh cabut, yuk? Udah mau jam satu nih,” ucap Gama kemudian. Melihat jam yang tertera di pergelangan tangannya.
Mereka pun kemudian bangkit dan satu persatu melangkahkan kaki meninggalkan meja. Rafly yang berjalan di paling belakang menghentikan langkahnya ketika sebuah pesan muncul di layar ponselnya.
My wife❤
Mas aku butuh penjelasan kamu!
Dan sebuah foto yang di kirimkan oleh Nessa, muncul di sana. Sebuah tangkapan layar dari story i********: Karesha yang memperlihatkan foto seluruh Divisi MC team A yang baru saja di ambil beberapa menit yang lalu.
Rafly hendak membalas pesan itu, namun urung ketika Raline menghampirinya.
“Kamu kenapa? Pesan dari siapa?” Raline mengambil ponsel milik Rafly dan melihat isinya.
“Raf?”
“Kamu enggak perlu khawatir. Aku bakal selesaikan ini sama Nessa. Ok?”
“Ta—tapi Raf?”
“Believe me. Kita bakal baik-baik aja,” bisiknya sambil meraih ponsel itu dari tangan Raline.
“Ayo.” Ia berjalan lebih dulu, di susul oleh Raline kemudian. Diam-diam, Raline bersorak dalam hati. Jika Nessa sudah tahu, itu artinya permainan baru saja di mulai, bukan?
Oh ia sangat penasaran dengan reaksi Nessa setelah ini.
***