03 — Mulai Memasuki Lingkaran?

1272 Words
Hari sabtu seharusnya menjadi hari yang sejahtera karena setelah bekerja lima hari lamanya, akhirnya weekend tiba. Hari di mana bagi sebagian orang akan dimanfaatkan untuk berlibur, quality time dengan keluarga, jalan-jalan, shopping, atau ya sekedar berleha-leha menikmati tarikan nafas yang sedikit lebih lega dari biasanya. Namun, tidak dengan Raline. Wanita berusia 26 tahun dengan zodiac scorpio itu terpaksa harus meninggalkan tidur lelapnya akibat dering ponsel yang sejak beberapa jam lalu terus berteriak minta diangkat. Raline mendengus kesal. Siapa yang berani mengganggunya di hari libur pagi pagi begini? Raline meraih ponsel yang tergeletak di nakas, mencabut kabel charge dan mengecek siapa yang ... Oww matanya langsung terbelalak ketika melihat nama itu di layar ponselnya. Ia langsung mengambil posisi ternyaman kemudian mengangkat telepon itu. Belum sempat Raline berucap, suara di sebrang telepon lebih dulu terdengar. "Kita harus bicara!" tandasnya. Terdengar bukan sebuah ajakan melainkan perintah. "Pagi-pagi begini?" Raline menanggapi. "Aku tunggu di Artsane Cofee. Jam 09.00." Tanpa menunggu jawaban Raline, telepon tersebut langsung diputus sepihak. Raline tersenyum simpul. Apakah permainan baru saja di mulai? Waaah ia tak sabar melihat apa yang akan dilakukan lelaki itu. Meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, Raline langsung bergegas bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi. Sekitar 45 menit, Raline sudah siap dengan pakaiannya. Kali ini ia memakai rok span pendek diatas lutut berwarna putih tulang yang dipadukan dengan singlet berwarna putih berkerah cukup rendah menampilkan sedikit asetnya dan ditutup dengan bleezer berwarna senada dengan rok yang membuat penampilan Raline sedikit agak ... berani? Setelah mengoleskan liptint merahnya, ia menatap sekilas dirinya di cermin, merasa puas dengan penampilan yang sedikit berbeda dari biasanya itu. Saat semuanya dirasa cukup, Raline langsung mengambil tas kecil berwarna putih tulang, mengaitkannya di bahu lalu bergegas keluar dari kamar. Jam menunjukan pukul 08.00 pagi ketika Raline keluar dari unit apartemennya menuju baseman. Menaiki mobil, ia mulai berkendara membelah jalanan ibu kota di weekend pagi yang menurutnya tidak terlalu buruk itu. *** "I'm so sorry for late, Raf," ujar Raline saat wanita itu baru saja tiba pukul 09.20 wib. "Jalanan macet banget. You know lah, weekend," tambahnya sambil menyimpan tas kecilnya di atas meja. "What do you want to talk about?" tanya Raline. "Pagi-pagi begini." Lelaki berparas tampan dengan kaos hitam lengan panjang dan celana bahan berwarna abu itu sedikit berdehem, sadar dengan kesalahan yang baru saja dilihatnya. “Aku nggak mau basa basi,” ujar Rafly. Wajahnya terlihat serius. “Apa tujuan kamu sebenernya, Line? Aku tahu kamu gak serta merta pengen kerja di perusahaan yang jauh dari passion kamu tanpa alasan.” “Kenapa kamu berpikir begitu?” “Wanna do the revenge?” tuding Rafly. Raline menaikkan satu alisnya. “Sedangkal itu?” “So?” “Pertama, aku enggak punya tujuan apa-apa selain kerja. Kedua, pertemuan kita itu bentuk ketidaksengajaan jadi menurut aku kalau kamu mikirnya aku mau balas dendam, itu kejauhan. Ketiga, hubungan diantara kita juga udah selesai,” papar Raline. Wanita itu merubah posisi duduknya, sedikit mencondongkan diri ke arah Rafly. “Kecuali, kalau kamu mau memulainya kembali,” lanjutnya dengan nada sedikit lebih rendah. “Aku tidak akan pernah mengkhianati istriku,” ucap Rafly terdengar tegas. “Traitors always make the same mistakes, right?” Raline tersenyum. Kemudian melanjutkan ucapannya. “Kamu bisa membohongi semua orang termasuk istrimu tapi tidak bisa membohongi hati kecil kamu sendiri, Raf. Kamu bisa mengkhianati aku, tapi tidak mampu mengkhianati diri kamu sendiri. You want me. Still.” “Apa kamu begitu frustrasi kita berpisah, hmmm?” “Pardon?” Dagu Rafly menunjuk ke arah pakaian Raline yang langsung dipahami oleh si pemilik outfit. “Why? Aku tidak merasa ada yang salah. Wajar bukan mencoba hal baru ketika bosan dengan yang lama? Emmm... Likes you, maybe?” sindir Raline sambil mengulum senyum. “You too brave,” komentarnya. “Kamu nggak suka?” “No.” “Kalau begitu tidak perlu marah.” Rafly terlihat tidak terima. Namun Raline melanjutkan kalimatnya. “Tatapan kamu sejak tadi sudah menjawab semuanya.” “Aku masih ada urusan. If you still need to talk, you can come.” Raline mengetik sesuatu di ponselnya. Tak lama, ponsel milik Rafly berbunyi. Menampilkan pesan baru dari Raline. “See you, soon!” Raline bangkit dari posisinya kemudian melangkah pergi. Rafly menatap layar ponsel yang mulai meredup kemudian mati. Ia masih menimbang-nimbang untuk melihat pesan tersebut atau tidak. Jika ia melihatnya, ia tidak yakin akan bisa mengatasinya. Jika memilih untuk langsung menghapusnya maka apa yang dikatakan oleh Raline adalah sebuah kebenaran. Sial! batinnya. *** “Gue enggak habis fikir sama pemikiran lo sekarang, Line. I'm happy you got up tapi, apa ini enggak kejauhan?” tanya Chisa yang terlihat khawatir. Saat ini ia sedang berada di Sweetest Bakery milik Chisa, sahabatnya. Perempuan manis bertubuh ramping itu membuka apron yang sedari tadi di pakainya, menaruhnya di kastok lalu menghampiri Raline. “Tempat kerja gue maksudnya? Ya jauh sih klo dari rumah tapikan jadi deket sama lo,” ujar Raline. Ia kembali memakan potongan red velvet favoritnya. Chisa menatap tajam Raline. Perempuan itu selalu saja punya alasan lain untuk menghindar dari topik pembicaraan. “Oke, selanjutnya apa?” Raline terlihat berpikir. “Menikmati setiap prosesnya. Maybe?” Chisa terkekeh. “Cewek gila!” “Yes, I am!” Raline membenarkan. Keduanya tertawa. “Mommy, I'm home!” teriak anak kecil dari arah pintu masuk. Sontak, Chisa menoleh dan membentangkan tangannya ketika seorang anak perempuan cantik berlari dan menghambur ke pelukannya. “How was your day? Happy?” tanya Chisa saat keduanya merenggangkan peluk. “Happy!” lalu ia menoleh ke arah Raline. “Hi onty Raline. Long time no see!” katanya dengan begitu manis sambil mengulurkan tangannya. “Long time no see, Pricilla.” Raline melakukan hal yang sama yang kemudian langsung disambut oleh tangan mungil anak kecil bernama Pricilla itu lalu diciumnya. “Chilla, ganti baju dulu lalu makan siang, okay?” “Okay, mom. See you onty Raline,” katanya sambil melambaikan tangannya. “See you girl,” timpal Raline masih dengan senyum tulus di wajahnya. Pricilla kemudian berjalan menjauh bersama suster memasuki pantry. “Gila, ya. Waktu kayak cepet banget berlalu. Padahal rasanya kayak baru kemaren gue jenguk lo di rumah sakit abis lahiran, eh sekarang dia udah 4 tahun aja. Sedangkan gue masih gini-gini aja,” celetuk Raline. Chisa ikut terkekeh. “Ya kan gampang. Lo tinggal cari laki, nikah, bikin anak, selesai!” “Mulut lo yaaaa!” Chisa tergelak. Pilihannya dulu untuk menikah muda mungkin tergolong keputusan yang terlalu cepat. Tapi ia sendiri tidak memiliki cukup banyak alasan untuk menunda pernikahan ketika sudah tidak memiliki siapapun lagi dalam hidup kecuali Reino, suaminya. Namun siapa sangka jika keputusan itu membawa Chisa pada kehidupan yang bahagia ditambah lagi dengan kehidupan Pricilla, putri kecilnya yang menambah lengkap keluarga kecilnya. Saat sedang berbincang, pintu toko kembali terbuka, menampilkan seorang wanita memasuki toko. Chisa yang melihatnya langsung bangkit dari kursi. “Bentar ya, Line. Ada customer,” katanya kemudian berjalan ke etalase. “Mbak aku mau croissant 2 sama strawberry cream cruffin nya 2 ya,” ucap wanita tersebut. Suaranya yang tidak asing di telinga Raline, membuatnya menoleh ke sumber suara. Dan, betapa terkejutnya ia saat melihat perempuan itu di sana. Sebuah kebetulan atau... Tanpa berpikir panjang, Raline langsung berdiri dari posisinya dan berjalan mendekat ke arah kasir. Saat selesai bertransaksi, perempuan itu barbalik dan kaget ketika hendak bertabrakan dengan seseorang. Namun yang lebih mencenangkan adalah ketika mengetahui orang itu adalah Raline. “Hai,” sapa Raline ramah. Senyumnya mengembang. “Long time no see ... Nessa.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD