🎤: Andien Cinta yang tumbuh dari tawa, mengakar dari kebersamaan, dan tak pernah goyah meski dunia berubah. *** “Bangun, sayang,” bisiknya di telingaku. Ia menindih sebagian tubuhku, melabuhkan kecupan-kecupan kecil di wajahku. Aroma mint segar dari aftershave balms menyapa penciumanku, juga lembut parfum yang baru saja ia gunakan. Kedua tangannya kemudian menyusup di antara punggungku dan permukaan kasur, memberi pelukan erat. “Sudah mau jam delapan. Keburu habis subuhnya, Dek,” ujarnya lagi. Dan kalimat itu sontak membuatku membelalak. “Terbitnya jam 08:39, don’t worry,” sambungnya. Aku menghela napas lega. Pagi pertama aku terbangun di kota yang masih terasa sangat asing. Mas Ay membantuku duduk, menanyakan keadaanku lebih dulu. Apakah ada yang sakit, apakah aku mual, dan apak

