Raveno mengelengkan kepalanya tidak percaya, berfikir kalau ini adalah halusinasi. Tapi kenyataannya, ini bukan halusinasi. Sosok itu mengambil alih putri mereka kemudian menimangnya dan menangis karenanya. Sejenak Raveno mengambil langkah untuk berdiam diri, menatap bagaiamana Ayyara ikut menangis dan tangannya terulur menyentuh pipi Airin seolah mengetahui kalau itu adalah sosok yang melahirkannya. Tertampar karena kenyataan, Raveno menarik tangan Airin untuk duduk di sofa. “Kenapa kamu di sini, Airin?” “Shhttt…. Anaknya mulai tidur,” ucap Airin terharu ketika Ayyara mulai memejamkan mata sambil menggigit tangannya sendiri. “Bentar… jangan ngomong dulu…” “Aku gak bisa lama, aku harus kembali membawa Ayyara. Kita bicara lagi nanti.” “Nggak, kita bicara sekarang. Tolong biarkan dia ter

