Raveno terbangun dari tidurnya, dia memegang kepalanya yang terasa sakit setelah semalam tidur larut dan telah minum minum. Dirinya mendudukan diri, menatap pantulan dirinya di cermin. Bahkan Raveno sendiri pernah menyematkan kata b******k untuk dirinya sendiri. Dan perubahan itu dimulai karena dia memiliki Ayyara, dia takut anaknya tumbuh tanpa kasih sayang, dia takut dia tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk Ayyara. “Rav, hiks…. Jangan…. Tolong… hiks…” Kalimat itu menghantuinya, disusul dengan kalimat lainnya yang masih terngiang di kepalanya. “Raveno, aku hamil. Aku harus gimana… hiks….?” Sepintar pintarnya menutupi bangkai, pasti akan tercium juga bukan? Raveno bukanlah sosok yang sebaik itu. namun dia dipaksa baik oleh keadaan, ditekan apalagi saat dia mendapatkan kalim

